Begini Tren Rekrutmen 2026, usai Perusahaan Beralih dari CV Tradisional atau CV Buatan AI

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 11 Desember 2025 | 09:26 WIB
Ilustrasi: CV tradisional ataupun CV buatan AI bukan satu-satunya syarat utama untuk merekrut karyawan. (PejuangKantoran.com/Gemini AI)
Ilustrasi: CV tradisional ataupun CV buatan AI bukan satu-satunya syarat utama untuk merekrut karyawan. (PejuangKantoran.com/Gemini AI)

PejuangKantoran.com - Jangan mengira kamu lebih unggul dari kandidat lain karena sudah bisa bikin prompt yang bagus untuk menyusun CV buatan AI, atau membuat CV yang ATS-friendly.

Sebab, studi terbaru dari dunia rekrutmen memaparkan fakta, para pemberi kerja sudah punya strategi lain untuk merekrut kandidat terbaik.

Studi global dari platform rekrutmen Willo mendapati bahwa CV tradisional saat ini tidak lagi jadi satu-satunya pegangan buat merekrut karyawan baru. Hanya empat dari 10 karyawan yang menilai CV tersebut sebagai indikator paling bisa diandalkan untuk menggaet talenta baru.

Baca Juga: Mie Gacoan Membuka Lowongan Kerja Creative Manager buat yang Biasa Kerja dengan Pace Cepat

The Hiring Trends Report 2026, yang dipublikasikan oleh perusahaan yang berbasis di Glasgow itu, menunjukkan, meski CV tetap jadi tahap awal dari kebanyakan proses rekrutmen, tetapi sudah nggak jadi satu-satunya syarat utama.

Menurut studi tersebut, cuma 37% karyawan yang menilai kredensial dan riwayat pendidikan (yang biasa dicantumkan di CV) sebagai indikator utama dalam menemukan kandidat.

Empat dari 10 responden (41%) sudah beralih dari rekrutmen berbasis CV, sedangkan 10% responden sudah mengganti CV dengan penilaian berbasis keterampilan dan skenario. Kemudian sekitar 15% responden mengatakan sedang mencari alternatif dari CV.

Laporan tahunan Willo juga melacak bagaimana metode rekrutmen berubah setiap tahun. Tahun 2024, CV masih jadi pegangan utama. Namun pada 2025, CV tradisional mulai tergeser oleh pemberi kerja karena CV buatan AI makin lazim dipakai.

Nah, laporan yang menggambarkan tren tahun 2026 menunjukkan perubahan yang signifikan. Saat ini para pemberi kerja semakin menyukai wawancara perilaku, tes keterampilan, dan penilaian daripada membaca CV yang sudah dipoles.

CEO dan Co-founder Willo Euan Cameron meyakini bahwa perubahan ini menunjukkan rekruter semakin meragukan apa yang ditampilkan di CV.

Baca Juga: Menolak Disebut Nepo Baby, Nazira C. Noer Justru Terbebani Nama Besar Orang Tua yang Disandangnya

“CV dulunya menggambarkan upaya, pengalaman, dan bakat, tapi sekarang seringnya malah memberi kesan seberapa pintar seseorang membuat prompt suatu large language model,” katanya. Ouch!

“Kandidat-kandidat yang bagus sekarang tenggelam dalam lamaran-lamaran yang hampir identik, dan tim rekrutmen terbaik sudah menyadari hal itu.

"AI bukan akhir dari proses perekrutan, melainkan mengakhiri perekrutan yang cuma mengandalkan ringkasan pengalaman,” kata Cameron.

Ia bilang, pihak pemberi kerja mencari sinyal kemampuan yang nyata, yang fokus pada keterampilan, skenario, dan kredensial yang terverifikasi.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Global Recruiter

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X