PejuangKantoran.com - Sepertinya wisatawan yang berniat terbang melalui hub besar seperti Bandara Frankfurt (FRA) atau Bandara Munich (MUC) perlu mulai waspada.
Kabarnya, maskapai asal Jerman, Lufthansa (LH), terancam gelombang aksi mogok dari karyawannya. Hal ini terjadi setelah negosiasi antara pihak maskapai dengan serikat pekerja awak kabinnya, UFO (Unabhängige Flugbegleiter Organisation), menemui jalan buntu.
Masalah utamanya ada pada rencana perubahan aturan kerja atau yang dikenal sebagai Manteltarifvertrag (MTV). Aturan ini sangat penting karena mengatur segala hal mulai dari jam kerja, penjadwalan tugas, kebutuhan waktu istirahat, hingga uang sakit bagi awak kabin.
Baca Juga: Orang yang Masih Suka Membuat To Do List dengan Tulisan Tangan Ternyata Punya Kepribadian Ini
Lufthansa ingin melakukan perombakan besar-besaran demi efisiensi biaya operasional. Tapi, pihak UFO merasa usulan tersebut terlalu mengekang manajemen atas jadwal dan kondisi kerja mereka, sehingga mereka memilih untuk langsung mundur dari negosiasi.
Kenapa Lufthansa sampai nekat menekan karyawannya sedalam ini?
Jawabannya ada pada angka. Meskipun Lufthansa merupakan maskapai besar, performa finansialnya ternyata lagi kurang baik kalau dibandingkan dengan anak perusahaan lain di Lufthansa Group.
Bayangkan saja, pada 2025 Lufthansa meraup pendapatan sebesar 17,1 miliar euro, tapi labanya cuma 148 juta euro. Artinya, margin operasinya hanya sekitar 0,9 persen.
Angka ini sangat jomplang kalau kita melihat SWISS yang bisa mencapai margin 9,3 persen, atau Eurowings di angka 4,3 persen. Bahkan Brussels Airlines dan Austrian Airlines masih lebih baik.
Jadi, Lufthansa menganggap perubahan tersebut penting untuk menjaga daya saing jangka panjang dan mendanai pembaruan armada serta peningkatan produk.
Baca Juga: Siap Jadi Ocean Ambassador? Simak Syarat & Cara Daftar Mermaid & Merman Indonesia 2026!
Tidak heran kalau CEO Lufthansa Carsten Spohr menyebut maskapai inti ini sebagai "anak bermasalah" karena biaya tenaga kerja yang tinggi dan struktur kerjanya yang dianggap sudah kuno.
Di sisi lain, para awak kabin merasa sedang dipojokkan. Sebelumnya, situasi sudah cukup panas gara-gara penutupan CityLine yang kemudian diganti dengan unit baru bernama Lufthansa City Airlines.
Isunya, kru di unit baru ini ditawari kontrak dengan gaji lebih rendah dan fasilitas yang lebih sedikit. Nah, biasa deh, isu sensitif kayak gini jelas memicu kekhawatiran soal masa depan nasib mereka.
Kebuntuan itu meningkatkan risiko serikat pekerja akan menggunakan aksi mogok yang dapat menghentikan ratusan penerbangan dalam satu hari.
Artikel Terkait
Apa Itu Subject Matter Expert, yang Sering Diandalkan Perusahaan untuk Memberikan Wawasan Ahli?
Italia Buka Hampir 500 Ribu Visa Kerja untuk Pekerja Asing hingga 2028
Lowongan Kerja Jadi Videografer dan Management Trainee, Cek di Sini
Mau Gabung dengan Transportasi Ikonik Jakarta? Program Transjakarta Berdaya Kembali Dibuka!
Menurut Studi, AI Memungkinkan Peretas untuk Mengidentifikasi Akun Anonim di Media Sosial
"Mengatur Bos" dengan Metode Managing Up yang Bisa Meningkatkan Performa Perusahaan atau Organisasi
8 Tips Praktis Sehari-hari Agar Managing Up Kepada Atasan Kamu Efektif dan Lancar