PejuangKantoran.com - Wacana yang menyebut bahwa AI bakal mengambil alih berbagai pekerjaan yang dilakukan manusia itu memang mencemaskan. Namun, ada kabar menarik dari pengadilan di Tiongkok buat para karyawan.
Pengadilan Menengah Rakyat Hangzhou baru saja memutuskan bahwa perusahaan nggak bisa serta-merta memecat karyawan hanya karena AI bisa mengerjakan tugas mereka dengan lebih murah.
Keputusan ini bermula dari kasus seorang karyawan bernama Zhou. Ia bekerja sebagai pengawas kualitas di sebuah perusahaan teknologi dengan gaji 25.000 yuan (sekitar Rp57 juta per bulan).
Baca Juga: 5 Tanda bahwa Kamu Karyawan yang Tidak Tergantikan di Tempat Kerja, Termasuk oleh AI
Tugas Zhou mengecek hasil interaksi antara pengguna dan model AI, memastikan jawabannya benar, dan menyaring konten yang melanggar privasi.
Seiring berjalannya waktu, perusahaan merasa peran Zhou sudah tidak terlalu dibutuhkan karena otomatisasi AI itu sendiri. Zhou mau dipindah ke posisi lain, tapi gajinya turun drastis jadi cuma sekitar Rp34 juta.
Zhou jelas menolak. Akibatnya, perusahaan memutus kontrak kerjanya. Dari situlah muncul perselisihan antara Zhou dan perusahaan tempat dia bekerja.
AI adalah strategi sukarela
Inti dari perselisihan tersebut adalah, apakah restrukturisasi karena AI bisa dianggap sebagai perubahan besar dalam keadaan objektif? Hukum di Tiongkok memang memungkinkan perusahaan memutuskan kontrak kerja jika ada unsur tersebut.
Tapi ternyata, pengadilan menolak argumen perusahaan. Hakim menilai bahwa keputusan perusahaan untuk mengadopsi AI adalah strategi bisnis sukarela, bukan sesuatu yang membuat kontrak kerja menjadi mustahil untuk dijalankan.
Baca Juga: Takut Pekerjaan Mereka Digantikan AI, 1 dari 10 Karyawan Muda Putuskan Ganti Haluan Karier
"Meskipun bisnis bebas mengejar pemutakhiran teknologi, mereka juga harus mempertimbangkan hak dan kepentingan sah karyawan selama masa transisi tersebut," demikian pernyataan dari Pengadilan Hangzhou.
Pengadilan menambahkan, seharusnya perusahaan tidak langsung memecat karyawan, dan memprioritaskan pelatihan ulang bagi mereka. Tujuannya agar mereka bisa beralih ke posisi lain yang masih membutuhkan sentuhan manusia.
Tidak merampas hak pekerja
Isu ini sebenarnya relevan banget buat kita semua, terutama setelah melihat tren global saat ini. Sejak awal 2026, hampir 80.000 pekerja teknologi di Amerika Serikat kehilangan pekerjaan karena diambilalih oleh AI.
Artikel Terkait
Nekad! Sidharta Tata Pilih Lokasi di Gang Sempit untuk Adegan Fighting di Film 'Ikatan Darah'
Boleh Nggak Sih, Ngerekam Orang di Tempat Umum buat Konten Medsos tanpa Setahu Mereka?
Perbedaan Bos dan Leader, dari Cara Berkomunikasi hingga Mengambil Keputusan yang Lebih Disukai Tim
Cara Mengubah Gaya Kepemimpinan dari Bos Menjadi Leader untuk Menurunkan Turnover Karyawan
Kerja Sampingan Jadi “Mode Bertahan” Pekerja Indonesia
167 BUMN Ditutup, Tapi Pemerintah 'Janji' Tak ada yang di PHK
'Ganteng Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral' Terinspirasi dari Lomba Binaraga di Majalengka