Bahkan, Mark Zuckerberg dari Meta baru saja mengumumkan pemangkasan 8.000 karyawan untuk menutup biaya infrastruktur AI.
Namun, putusan pengadilan di Tiongkok itu ingin memberikan batasan agar kemajuan teknologi tidak merampas hak-hak dasar pekerja.
"Kemajuan teknologi mungkin tidak bisa dihentikan, tapi ia tidak bisa berdiri di luar kerangka hukum," tukas Wang Tianyu, peneliti dari Chinese Academy of Social Sciences.
Kasus ini memberi pesan bahwa transisi ke era otomatisasi AI tidak boleh dilakukan sepihak dengan mengorbankan kesejahteraan karyawan. Perusahaan punya tanggung jawab untuk membantu timnya beradaptasi, bukan sekadar memberhentikan mereka demi menekan biaya.
Putusan Pengadilan Tiongkok ini juga jadi pengingat bahwa di balik efisiensi yang ditawarkan AI, perlindungan terhadap martabat pekerja harus tetap menjadi prioritas utama.
Semoga kebijakan yang sama juga bisa diterapkan di seluruh dunia, termasuk di lingkungan kerja kita sendiri.
Artikel Terkait
Nekad! Sidharta Tata Pilih Lokasi di Gang Sempit untuk Adegan Fighting di Film 'Ikatan Darah'
Boleh Nggak Sih, Ngerekam Orang di Tempat Umum buat Konten Medsos tanpa Setahu Mereka?
Perbedaan Bos dan Leader, dari Cara Berkomunikasi hingga Mengambil Keputusan yang Lebih Disukai Tim
Cara Mengubah Gaya Kepemimpinan dari Bos Menjadi Leader untuk Menurunkan Turnover Karyawan
Kerja Sampingan Jadi “Mode Bertahan” Pekerja Indonesia
167 BUMN Ditutup, Tapi Pemerintah 'Janji' Tak ada yang di PHK
'Ganteng Ganteng Genteng: Kontes Otot Paling Viral' Terinspirasi dari Lomba Binaraga di Majalengka