PejuangKantoran.com - Sesi wawancara kerja selalu menjadi momen yang ditunggu para pelamar kerja. Sebab, untuk bisa mendapat undangan wawancara saja itu sudah prestasi tersendiri. Masalahnya, interview termasuk bagian dari proses rekrutmen yang sangat menantang.
Ada banyak pertanyaan saat interview yang butuh strategi untuk menjawabnya. Dari “Ceritakan tentang siapa diri kamu”, sampai “Apakah ada pertanyaan sebelum mengakhiri wawancara?”, semua harus dijawab dengan hati-hati.
Contohnya aja, CEO Consumer Technology Association, Gary Shapiro, punya satu pertanyaan penting yang akan menentukan apakah ia akan menerima atau menolak kandidat kalau mereka salah menjawabnya.
Baca Juga: Sukuk Tabungan ST016 Tawarkan Kupon di Atas 6%, Lebih Tinggi daripada Produk Sebelumnya
Ketika pewawancara akhirnya bertanya, "Kapan bisa mulai bekerja?", jangan dikira kamu sudah pasti akan diterima bekerja.
Apalagi kalau kamu tanpa pikir panjang langsung menjawab, “Secepatnya”, atau “Saya bisa kapan saja”, karena kamu ingin memberi kesan antusias atau rela mengorbankan apa pun demi bergabung dengan perusahaan tersebut.
Shapiro bilang, kesiapan untuk masuk kerja dalam waktu dua minggu setelah wawancara kerja itu justru red flag yang bikin kamu nggak diterima bekerja. Kenapa?
"Mereka nggak bakal saya terima kerja, karena pasti mereka akan memperlakukan kami seburuk cara mereka memperlakukan bos lamanya," ujar Shapiro.
"Saya butuh karyawan yang punya komitmen tinggi sama perusahaannya, meskipun mereka nggak suka-suka amat sama pekerjaannya. Tapi setidaknya mereka bukan tipe orang yang bakal pergi begitu saja dan meninggalkan perusahaan dalam kesulitan."
Baca Juga: Seven Retail Buka Lowongan Kerja Growth & Strategy Associate Lulusan Akuntansi atau Keuangan
Kecuali, tentu saja, kalau saat itu kamu memang belum punya pekerjaan sama sekali. Dalam hal ini, pertanyaan yang menentukan lolos-enggaknya itu nggak berlaku.
Alasan lain yang perlu diketahui
Buru-buru menjawab "secepatnya" juga memberi kesan kamu desperate banget, dan rela menerima pekerjaan apa saja. Jawaban untuk pertanyaan "kapan bisa mulai bekerja" itu nggak disarankan karena berisiko mengurangi peluang kamu untuk negosiasi gaji.
Jawaban pertanyaan seperti itu juga menunjukkan kamu tidak punya planning yang baik. Bagaimanapun, resign dari pekerjaan membutuhkan transisi. Perencanaan yang baik merupakan kunci dari keterampilan perencanaan dan standar kerja kamu.
Artikel Terkait
Film "Shaka On Shaka" Hadirkan Kisah Cinta Rocker dan Fansnya dengan Nuansa Konser Musik
5 Alasan Mengapa Generasi Baby Boomer Suka Mikir Gen Z Susah Diajak Kerja Sama
CEO Airbnb Brian Chesky Nge-Spill Dua Tipe Orang yang akan Paling Mudah Digantikan oleh AI
Airbnb Gunakan AI untuk Menulis 60% Kode Baru di Perusahaan, dan Ini Sebagian Manfaatnya untuk Bisnis
12 Poin Penting Agar Gen Z First Jobber Tidak Terjebak Gaya Hidup Utang
Kenapa Kimberly Ryder Ngaku Series 'Ikhlas Paling Serius' Relate Banget dengan Kehidupannya?
Pengangguran Tembus 7,24 Juta, Wamenaker Minta Anak Muda Buka Lapangan Kerja Sendiri