Tidak bisa dimungkiri, AI memang sangat membantu untuk mempercepat dan memperbanyak produksi konten. Perusahaan bisa menghemat waktu dan biaya operasional dalam jumlah besar. Tapi kalau kontennya 100% buatan AI, hasil pemasarannya belum tentu memuaskan.
Data dari Semrush menunjukkan kalau konten buatan manusia masih merajai mesin pencari Google. Kemampuannya menduduki peringkat pertama sebanyak 80%, sedangkan konten murni buatan AI hanya 9%.
Masalah kepercayaan juga jadi taruhannya. Menurut survei Pangram, 69% orang mengaku lebih sulit percaya pada konten yang ditulis oleh AI. Jadi pilihannya ada di tangan pelaku usaha: mau genjot jumlah konten pakai AI, atau menjaga kepercayaan pelanggan dengan tulisan yang otentik?
Buat mereka, nilai jual utamanya sekarang justru ada pada penulis manusia yang bisa membawa sudut pandang orisinal, gaya bahasa yang khas, dan kemampuan membangun hubungan emosional dengan audiens.
Artikel Terkait
Mengenal Billyrrom, Band Soul Funk Asal Tokyo yang akan Tampil di Java Jazz Festival 2026
UNICEF Buka Lowongan Kerja Communications Specialist (Celebrity Partnerships And Campaigns)
16 Anak Muda Indonesia Masuk Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2026
Libur Panjang, Warga Jakarta Nggak Cuma Bisa Nonton Jerry Yan, tapi juga Belanja di BeautyFest Asia
Psikolog Soroti Viralitas Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng”, Awas Bisa Memengaruhi Persepsi Publik
Tren Baru, Gen Z di China Pilih Profesi jadi Pendamping Naik Gunung
Ketahui Perbedaan Utama Antara Travel Grant dengan Beasiswa (Scholarship) Supaya Kamu Tahu Minat yang Mana