“Tolok ukurnya adalah ketika kita ngobrol atau bicara masih jelas, artikulasi masih jelas, berarti lari masih oke. Tetapi kalau larinya sudah ngos-ngosan, itu berarti larinya kecepatan. Harus diturunin lagi pace-nya.
“Tenaga lari yang dipakai harus sesuai dengan kemampuan dan jarak kilometer yang akan ditempuh. Kalau paru-paru, badan, napas, otot dan core-nya sudah mulai enak, baru kita bisa tambah kecepatannya,” sarannya.
Ketika kita sudah punya kecepatan, bukan tidak mungkin kita bisa berprestasi dan menjadi pemenang dalam event lari. (Syanne Susita)
Artikel Terkait
Dua dari Tiga Orang Amerika Memakai TikTok, dan Sekarang TikTok Akan Diblokir Di AS
Lowongan Kerja di Traveloka: Product Copywriter Buat Kamu Si Perangkai Kata
Lupa EFIN? Begini Cara Mendapatkan EFIN Jika Mau Lapor SPT Tahunan dengan e-Filing
RUPSLB Sritex 'Pecat' Direksi dan Komisaris Lama, Digantikan dengan yang Baru
5 Kesalahan Saat Memilih Partner Bisnis yang Harus Dihindari Agar Tidak Pecah Kongsi
Cuti Bersama untuk Lebaran Menjadi 19-25 April, Berlaku untuk Semua Perusahaan?