PejuangKantoran.com - Tepat di Hari Idul Fitri, Minggu, 23 April 2023 lalu, Sandiaga Uno keluar dari Partai Gerindra secara resmi. Padahal, saat itu ia masih menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra hingga 2025.
Ahmad Muzani, Sekjen Partai Gerindra, menyebut bahwa keputusan Sandiaga Uno keluar dari Partai Gerindra tersebut karena ia tergoda oleh hasil survei.
Menurut beberapa survei besar, temasuk dari Litbang Kompas dan Poltracking Indonesia, nama Sandiaga Uno memang selalu ada di posisi tiga besar calon wakil presiden di Pilpres 2024, bahkan menempati puncak.
Baca Juga: Erick Thohir Cawapres Idaman Publik, Kalahkan Ridwan Kamil dan Sandiaga Uno
Saat menjadi bintang tamu di acara Rosi oleh Rosiana Silalahi di Kompas TV, Sandiaga -yang masih menjabat Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif- membantah hal tersebut.
Menurutnya, konteks pendapat bahwa Sandiaga Uno keluar dari Partai Gerindra karena tergoda hasil survei cawapres tersebut sangat tidak relevan saat ini.
“Kalau saya tergoda survei, saya itu dulu ditunjuk sebagai wakil presiden dari Partai Gerindra di 2019. Konteksnya sangat tidak relevan saat ini. Sekarang saya memiliki waktu yang panjang. Pada waktu itu last minute sekali,” ujarnya.
Ingin berjuang lebih baik dalam konteks yang berbeda
Pengusaha berusia 53 tahun ini mengatakan bahwa keputusan yang diambilnya untuk keluar dari Partai Gerindra setelah melalui banyak pertimbangan.
Sandi menyebut ingin memperjuangkan hal yang menurutnya akan lebih baik diperjuangkan dalam konteks yang berbeda.
Dengan posisinya saat ini sebagai menteri, ia sudah menangkap begitu banyak harapan dari masyarakat, serta masukan dari kalangan ulama, milenial, hingga ibu-ibu. Dari semua hal itu, Sandi ingin ingin membawa suatu harapan dan solusi.
Baca Juga: Tanggapan Ganjar Pranowo Saat Ditanya Soal Nama-nama Calon Wakil Presidennya
Karena ia merasa harapan dan solusi yang diinginkannya itu sudah tidak tertampung dan tidak sesuai dengan partainya saat ini, maka ia merasa bahwa hal itu bisa diperjuangkannya dalam wahana lain.
“Sesuai dengan yang Pak Prabowo sampaikan bahwa di partai politik itu ada adab yang harus dipegang.
“Bahwa kalau nakhoda menentukan satu tujuan, seandainya (anak buah) memiliki pemikiran lain, yang ingin diperjuangkan mungkin platform yang tidak sesuai dengan arah partai politik, (maka) mestinya mengambil keputusan (lain). Jangan ada di dalam (partai) tapi tidak memiliki kesamaan pikiran,” jelasnya.
Artikel Terkait
Bawaslu Antisipasi Adanya Pelanggaran Pemilu dalam Peringatan Hari Buruh Internasional
Kurang Cuti dan Sering Lembur Bisa Ganggu Kesehatan Mental Karyawan
Cari Kerja Baru Usai Lebaran, Siapa takut? Ini Tipsnya Buat Kamu
8 Rekomendasi Drama Korea yang Menang di Ajang Baeksang Arts Awards
Lewat Lagu Mencintaimu, Kris Dayanti Telah Mengantar Jutaan Pengantin Ke Pelaminan
8 Kebiasaan Sehari-hari Ini Bisa Berakibat Buruk untuk Otak!