Gen Z dan Milenial di Asia Sekarang Enggan Bekerja di Pabrik, dan Ini Akibatnya!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 14 Agustus 2023 | 19:26 WIB
Ilustrasi: Pabrik-pabrik di Asia kekurangan tenaga kerja karena Gen Z dan milenial tak mau lagi bekeeja di pabrik. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Pabrik-pabrik di Asia kekurangan tenaga kerja karena Gen Z dan milenial tak mau lagi bekeeja di pabrik. (Freepik/Pressfoto)

Memindahkan pabrik ke Amerika mungkin tidak membantu 

Menghadapi lingkungan manufaktur yang berubah ini, perusahaan Amerika sebenarnya bisa memilih untuk mempertahankan pabriknya di Asia, atau memindahkan sebagian manufaktur mereka ke Amerika atau negara lain seperti Meksiko.

Pandemi COVID-19, selain masalah keamanan nasional dan hak asasi manusia, sudah menyebabkan banyak bisnis mengalihkan sebagian lini produksinya dari China ke Amerika dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun pindah ke Amerika memiliki keuntungan tertentu, seperti menciptakan lapangan kerja di Amerika dan meningkatkan ketahanan rantai pasokan, kemungkinan besar hal itu tidak akan mencegah kenaikan biaya.

Bagaimana pun, biaya tenaga kerja dan faktor lainnya umumnya lebih mahal untuk memproduksi barang di Amerika daripada di Asia.

Beberapa perusahaan, seperti Mattel, melihat "nearshoring"—mengalihkan rantai pasokan ke negara-negara yang lebih dekat ke AS—sebagai jalan terbaik.

Baca Juga: PNS Laki-Laki Boleh Poligami, PNS Perempuan Dilarang Jadi Istri Kedua, Benarkah Ini Aturan BKN?

Pada tahun 2019, Mattel menutup dua pabriknya di Asia dan menghabiskan $50 juta untuk memperluas pabrik mereka yang ada di Meksiko.

"Dengan memiliki produk yang dekat dengan konsumen Anda dan tidak harus mengangkutnya dari Asia, itu akan lebih menguntungkan dan lebih kompetitif jika Anda memperhitungkan biaya," kata Gabriel Galvan, direktur pelaksana Mattel Amerika Latin, kepada Reuters tahun lalu.

Tetapi meskipun Meksiko mungkin menawarkan  tenaga kerja yang lebih murah daripada di Amerika, dan biaya pengiriman yang lebih rendah daripada di Asia, masih harus dilihat apakah ini cukup untuk mencegah harga barang naik, dan menjaganya tetap terkendali.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Business Insider

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X