PejuangKantoran.com - Ternyata, banyak orang Jepang enggan menikah. Menurut laporan gender Cabinet Office tahun 2022, 25,4% perempuan dan 26,5% laki-laki usia 30-an mengatakan mereka tidak ingin menikah.
Lebih dari 19% pria dan 14% wanita berusia 20-an juga tidak memiliki rencana untuk menikah.
Kemudian menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang, jumlah pernikahan pada tahun 2022 adalah 504.878, turun sekitar 94.000 dibandingkan tahun 2019.
Baca Juga: Kakeibo, Seni Membuat Anggaran dan Menabung ala Jepang yang Praktis dan Mudah Diikuti
Penurunan ini jauh lebih besar dibandingkan penurunan sekitar 21.700 antara tahun 2016 dan 2019.
Dari survei tersebut, disebutkan bahwa satu dari empat lajang berusia 30-an di Jepang tidak ingin menikah karena beban keuangan, kehilangan kebebasan, dan masalah terkait pekerjaan rumah.
Setelah sempat mengalami ledakan bayi setelah Perang Dunia II selama dua tahun dari 1947 – 1949 dan pada 1971 – 1974, populasi Jepang telah berkurang secara mengkhawatirkan.
Sebuah laporan menyebutkan bahwa pada 2019 populasi Jepang berkurang sebanyak 276.000 orang.
Pemerintah melakukan penelitian setelah mengambil sampel dari 20.000 orang berusia 20-an dan 60-an. Baik laki-laki maupun perempuan mengatakan tidak ingin mengorbankan kebebasan mereka sebagai alasan menghindari pernikahan.
Namun, lebih banyak perempuan yang mengatakan bahwa mereka tidak ingin melakukan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anak sebagai alasan utama untuk tidak menikah.
Sementara untuk laki-laki, kurangnya kemampuan finansial dan ketidakamanan pekerjaan adalah alasan utama mereka tidak menikah.
Survei berbeda mendapatkan hasil yang sama
Sementara itu, Institut Nasional Kependudukan dan Jaminan Sosial, badan yang berafiliasi dengan pemerintah di Tokyo, mengatakan hasil survei pada 2021 akan menambah kekhawatiran mengenai rendahnya angka kelahiran.
Menurut survei tersebut, 17,3% laki-laki dan 14,6% perempuan berusia antara 18 – 34 tahun mengatakan tidak berniat untuk menikah. Ini menjadi angka tertinggi sejak kuesioner pertama kali dilakukan pada 1982.
Baca Juga: Pemerintah Jepang Semakin Rajin Rekrut Pekerja Asing, tapi Terapkan Aturan Kerja yang Sulit