Apresiasi yang diberikan Mendikbud Nadiem Makarim pada industri film tahun ini tampaknya lebih condong pada film-film art dan yang mengangkat isu-isu sosial.
Sebut saja Budi Pekerti, yang mengangkat tema media sosial dan kesehatan mental. Atau Women From Rote Island yang mengangkat potret perjuangan wanita melawan kekerasan.
Tak dapat dipungkiri bahwa akhirnya film-film nominee ini jadi jauh dari cerminan film-film yang merajai box office, di mana publik sepertinya lebih menggemari film-film horor.
Sedangkan jika dilihat dari daftar nominee, terasa sekali jika para pelaku industri kreatif –terutama di film– belum terlalu banyak. Terlihat, banyak pelaku industri yang dua filmnya lolos masuk nominasi.
Contohnya, Alim Sudio yang menyabet dua nominasi untuk kategori penulis skenario adaptasi di film Kembang Api dan Buya Hamka Vol. 1.
Baca Juga: Festival Film Indonesia 2023 Umumkan 30 Film Indonesia yang Lolos Seleksi Tahap Awal
Kemudian Dita Gambrino untuk kategori penata artistik di film Like and Share dan Budi Pekerti. Selain itu juga Aghi Narottama, Tony Merle, Bemby Gusti dalam kategori penata musik di film Sri Asih dan The Big 4.
Artinya, peluang orang untuk bekerja atau terjun di industri perfilman Indonesia masih terbuka lebar.
“Ya, aku juga sangat menunggu regenerasi juga mulai dari sutradara, talent ataupun segi kru. Pengen melihat talenta baru yang terus bertumbuh.
“Karena yang terpenting perfilman Indonesia bisa konsisten,” ujar Laura Basuki, saat konferensi pers Delegasi Filmmaker Indonesia Ke BIFF 2023, menanggapi apa yang perlu dibenahi dalam industri perfilman Indonesia. (Syanne Susita)