Teknologi kini memungkinkan lebih banyak orang untuk bekerja jarak jauh. Penelitian menunjukkan, hampir separuh dari karyawan yang disurvei percaya bahwa mereka bisa bekerja dari mana saja di seluruh dunia.
Dari jumlah tersebut, 64% berpendapat hal itu karena pekerjaan mereka bisa dilakukan dari jarak jauh dengan menggunakan laptop. Sementara 48% percaya keterampilan mereka akan dibutuhkan di seluruh dunia.
Baca Juga: Tak Punya Pekerjaan, Hal Paling Menakutkan Ketimbang Perang
Namun, hanya 9% karyawan yang mengatakan bahwa perusahaan mereka mengizinkan mereka untuk bekerja secara remote. Lebih dari sepertiga perusahaan (38%) mengatakan karyawan boleh bekerja jarak jauh, tetapi mereka harus tetap ada di Inggris.
Hampir setengah responden mengaku bakal senang kalau perusahaan memberikan kebijakan “bekerja dari mana saja”.
Sebab, kebijakan itulah yang diyakini akan meningkatkan work life balance bagi 66% responden. Bahkan, 50% yakin kebijakan itu akan meningkatkan produktivitas mereka.
Hasil survey yang serupa diluncurkan oleh OnePoll, yang menemukan bahwa 4 dari 10 orang yakin bahwa kebijakan-kebijakan progresif itu bisa menarik lebih banyak tenaga kerja yang lebih beragam.
Meski begitu, banyak juga yang membayangkan kesulitannya kalau mereka harus pindah dan bekerja di luar negeri. Misalnya soal hambatan bahasa, yang dikhawatirkan oleh 44% responden.
Kesulitan lainnya adalah masalah pembatasan visa dan imigrasi (35%), penyesuaian budaya (23%), bahkan cara mengelola uang dalam mata uang yang berbeda (9%).