news

Pelajaran Berharga yang Diperoleh Prabowo dari Cara Berpolitiknya Tahun 2014 dan 2019

Selasa, 23 Januari 2024 | 13:05 WIB
Saat bertemu relawan Erick Thohir Alumni Amerika Serikat, Prabowo mengaku ingin menghadapi kontestasi politik 2024 dengan lebih santai.

PejuangKantoran.com - Capres nomor urut 2 Prabowo Subianto mengaku ingin menghadapi kontestasi politik 2024 dengan cara santai. Ia mengatakan, terkadang memang ada beberapa pihak yang bersikap ofensif kepada dirinya.

Hal ini disampaikan Prabowo Subianto di bertemu relawan Erick Thohir Alumni Amerika Serikat (AS) di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (22/1/2024). Kehadiran mereka untuk mendukung pencalonan Prabowo sebagai Presiden 2024.

"Persaingan jangan jadi permusuhan, sudah baik-baik saja, jogetin saja," ujar Prabowo Subianto, disambut riuh tawa dan tepuk tangan para relawan dan tamu yang hadir.

Baca Juga: Indonesia Negara Majemuk, Prabowo Sebut Indonesia Butuh Pemimpin yang Mau Berjuang demi Perdamaian

Ada pemahaman penting yang ingin ditanamkan Prabowo saat ini, yaitu bahwa ia akan merangkul pihak manapun yang ingin bersama-sama bekerja dengannya untuk kepentingan membangun bangsa dan negara.

"I can work with anybody. I want to work with everybody for the good of our people in our country," tutur Prabowo, yang saat ini juga menjabat Menteri Pertahanan RI.

"Mengutip kata John F Kennedy, 'If we cannot take care of the many who are poor, it cannot save the few who are rich,'" tambahnya.

Siap mati

Untuk sampai pada pemahaman bahwa persaingan tidak perlu menjadi permusuhan, menurut Prabowo hal itu terjadi setelah ia melihat kembali kilas balik cara berpolitiknya pada 2014 dan 2019 lalu.

"Saya mengerti kenapa dua kali kalah. Terus terang saja kala itu belum sampai kepada pemahaman saya yang sekarang. Pencerahan itu terjadi waktu 2019 saya kalah," kenang Prabowo.

Saat itu, pria kelahiran Jakarta, 17 Oktober 1951 ini, merasa dirinya yang belum sampai pada pemahaman untuk meredam ego dalam suatu persaingan, begitu pula para pendukungnya.

Baca Juga: Prabowo Akui Apa yang Bikin Dia Kalah Pilpres Dua Kali pada Relawan Erick Thohir Alumni Amerika

"Di jalan Thamrin, ada pendukung saya teriak siap mati untuk saya. Di situ saya langsung berlutut, saya bilang: berhenti, saya tidak mau kau mati untuk saya, kau harus hidup untuk orang tuamu dan Indonesia," kata Prabowo.

Ia pun sadar, jika dirinya terus mengedepankan ego, ketegangan bakal semakin meluas dan merugikan banyak pendukungnya. Ia tak ingin Indonesia menjadi negara yang sesama warganya saling berkonflik.

"Saya waktu itu benar-benar bilang, daripada saya jadi presiden melalui jalan kekerasan, lebih baik saya nggak jadi presiden," ucapnya.

Halaman:

Tags

Terkini