PejuangKantoran.com - Pilihan bekerja dari rumah atau dari kantor masih jadi persoalan di luar negeri. Hingga sekarang, banyak karyawan kantor yang lebih suka work from home (WFH) dan menghadapi sanksi atas pilihannya.
Menurut penelitian, peluang karyawan yang bekerja dari rumah untuk mendapat promosi jabatan lebih rendah 11 persen daripada yang bekerja dari kantor atau WFO (work from office).
Baca Juga: Ini 3 Cara Biar Kamu Nggak Bosan Waktu Perjalanan Mudik Jelang Idulfitri
Temuan dari University of Warsawa, Polandia, itu merupakan hasil survei terhadap 937 manajer di Inggris. Mereka diberi skenario seperti ini: ada dua kandidat di mana hanya satu yang bisa menerima kenaikan gaji dan jabatan.
Kandidat-kandidat itu dibedakan berdasarkan usia, situasi keluarga, pengalaman, dan yang paling penting untuk penelitian ini, di mana mereka menghabiskan waktu bekerja.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor lain, hasilnya cenderung menunjukkan bahwa atasan ternyata lebih suka memberi kenaikan jabatan dan kenaikan gaji kepada karyawan yang datang ke kantor setiap hari.
Hasil penelitian ini mungkin tidak mengejutkan, terutama karena para manajer umumnya kurang setuju dengan konsep bekerja jarak jauh.
Baca Juga: Siap Tayang Hari Kedua Lebaran, Siksa Kubur Ternyata Dikembangkan dari Film Pendek Grave Torture
Penelitian dari ZipRecruiter menemukan, ada perbedaan gaji sebesar Rp349 juta antara rata-rata pekerjaan jarak jauh dan rata-rata pekerjaan offline.
Namun, angka-angka tersebut menunjukkan perbedaan yang jauh lebih mencolok dalam hal efek bekerja jarak jauh antara pria dan wanita.
Menurut laporan, kemungkinan pria untuk mendapatkan kenaikan jabatan jika mereka bekerja dari rumah 15% lebih kecil daripada wanita (7%).
Jika memilih WFH, peluang pria untuk naik gaji 10% lebih rendah dibandingkan rekan-rekannya yang WFO. Sedangkan kemungkinan wanita untuk naik gaji 7% lebih kecil dibandingkan yang tetap bekerja di kantor.
Baca Juga: Toko Diskon Don Quijote di Jepang Berikan Kursi Khusus Agar Kasir Bisa Bekerja Sambil Duduk
"Temuan kami menunjukkan bahwa individu yang bekerja dari rumah masih menghadapi hukuman karir, terlepas dari semakin meluasnya adopsi cara kerja ini," ujar Agnieszka Kasperska, salah satu penulis laporan tersebut.
"Baik pekerja jarak jauh pria maupun wanita mengalami hukuman karir, namun hukuman tersebut jauh lebih besar untuk pria."