Tahun ’90-an merupakan dekade di mana paling sering terjadi orang yang bertemu pasangan di tempat kerja, menurut sebuah studi Universitas Stanford tahun 2017.
Namun, banyak perusahaan yang memberhentikan karyawan yang berpacaran dengan rekan kerjanya.
Baca Juga: Sidang Isbat Kemenag Digelar Hari Ini, Ini Link Nonton Sidang Untuk Tahu Kapan Idulfitri 2024
Meskipun begitu, "Tidak seorang pun mengikutinya. Dan kami tahu itu; banyak kan, istri CEO yang dulunya adalah sekretaris mereka," ujar Taylor.
Dari sudut pandang pemberi kerja, beberapa perusahaan semakin longgar dalam menerapkan aturan percintaan di kantor. Padahal, saat itu perusahaan seolah sedang berebut mendapatkan talenta-talenta terbaik.
Alhasil, para pekerja merasa berada di atas angin, kata Taylor.
Kebijakan yang melarang pacaran di tempat kerja bisa membuat perusahaan menjadi tidak menarik bagi para kandidat, ujarnya.
Sebaliknya, perusahaan yang tidak terlalu kaku dengan aturan semacam itu jadi terbantu untuk menjangkau kandidat secara lebih luas.
"Keputusan-keputusan ini sebagian besar didorong oleh konsumen kami," katanya. "Dan konsumen kami adalah pelamar dari perspektif SDM."
Tinder menurun
Maraknya kisah asmara di tempat kerja bertepatan dengan kejenuhan Gen Z dan milenial terhadap aplikasi kencan -dan meningkatnya keinginan untuk bertemu langsung dengan orang yang disukai.
"Jika Anda melihat metrik di seluruh ekosistem aplikasi kencan online, hal itu sudah menurun sejak 2021," kata Ygal Arounian, direktur penelitian ekuitas internet di Citibank.
"Hampir tidak ada pertumbuhan sejak 2019, jadi kami melihat periode lima tahun di mana secara kolektif, pengguna dan waktu yang dihabiskan untuk aplikasi kencan tidak mengalami pertumbuhan yang nyata."