Bulan Desember, ketika platform streaming musik yang ia dirikan menghadapi kerugian terus-menerus dan harga sahamnya jatuh, Daniel Ek menggunakan jalur yang ditempuh raksasa teknologi lainnya untuk mengendalikan situasi, yaitu PHK massal.
Dalam memonya saat mengumumkan PHK massal, Ek mengatakan masih punya terlalu banyak karyawan yang ditugaskan khusus untuk mendukung pekerjaan dan melakukan pekerjaan lain di luar pekerjaan utama, ketimbang memberikan kontribusi terhadap peluang yang memiliki dampak nyata.
Baca Juga: Kesalahan saat Menjawab Pertanyaan “Mengapa Kami Harus Menerima Kamu?” ketika Wawancara Kerja
Awalnya, ada suara-suara skeptis yang mempertanyakan apakah langkah PHK tersebut hanya untuk menutup masalah-masalah yang sulit untuk diselesaikan, terutama mengenai margin yang rendah akibat biaya kontrak rekaman yang besar.
Namun, Ek tampaknya membuat keputusan yang tepat. Dalam empat bulan sejak pengumuman PHK, saham grup tersebut telah melonjak lebih dari 60%.
Spotify baru-baru ini juga membuktikan bahwa mereka mampu menaikkan harga di beberapa pasar utamanya, tanpa membuat pendengarnya beralih ke layanan saingannya seperti Apple Music.
Baca Juga: Alasan Pertanyaan Klise “Mengapa Kami Harus Menerima Kamu” Selalu Ada Saat Wawancara Kerja
Ke depannya, Spotify dan Ek juga tetap yakin bahwa PHK yang berat telah membuat Spotify mendapatkan keuntungan jangka panjang.
Hanya saja, bagaimana hal itu bisa memengaruhi kinerja mereka dalam jangka pendek, masih harus dibuktikan oleh Spotify.