PejuangKantoran.com - Diagnosis kanker yang diumumkan oleh Raja Charles III dan Kate Middleton, hengkangnya Pangeran Harry dari Inggris untuk tinggal bersama sang istri ke Amerika, menambah krisis yang menimpa keluarga kerajaan.
Peristiwa demi peristiwa tersebut jelas bukan hanya mempengaruhi mental Pangeran William yang kini menjadi pewaris tahta pertama Kerajaan Inggris, tetapi juga mengganggu jalannya pemerintahan raja yang relatif baru.
Kaum royalis beralih ke William di masa krisis ini, namun banyak kritikus menganggap gaya kepemimpinan putra sulung Raja Charles itu kurang.
Baca Juga: Lowongan Kerja Jadi Product Marketing di Modena, Khusus Buat Lulusan Marketing dan Pemasaran
Bisa dipahami kalau William mungkin merasa dirinya saat ini sedikit kesepian. Bagaimana pun, menurut pakar kerajaan Richard Palmer, “Tidak banyak orang yang istri dan ayahnya didiagnosis mengidap kanker dalam jarak yang berdekatan.”
Fakta bahwa William memilih untuk mengalihkan fokusnya pada keluarga memang dapat dimengerti, namun masih ada pertanyaan tentang bagaimana dia ingin memimpin saat ini dan di masa depan.
Pria berusia 42 tahun itu memilih untuk melakukan lebih sedikit dukungan pada proyek-proyek organisasi, dan lebih banyak mengabdikan diri pada beberapa proyek utama yang menarik.
Republik, kelompok anti-monarki, mungkin yang paling keras mengkritik keputusannya. Mereka menyebut proyek yang tidak dilakukannya itu tidak cukup, mengingat kekayaan berlebihan yang diberikan rakyat kepadanya.
Richard Palmer bahkan mengatakan bahwa keputusan William adalah hal yang sulit. Tidak jelas bagaimana dia akan mencapainya. BBC pun menyerukan agar William menemukan suaranya sendiri, meskipun ayahnya masih menjadi raja.
Banyak hal mengenai kesehatan Raja Charles yang belum diketahui, sehingga pengamat meyakini inilah saatnya William mengambil tindakan dan lebih banyak mendukung ayahnya.
“Dalam beberapa tahun ke depan, dia akan memikirkan ingin menjadi raja seperti apa, dan raja seperti apa yang perlu dimiliki negaranya pada pertengahan abad ke-21,” jelas sejarawan Sir Anthony Seldon.
Baca Juga: Nggak Cuma lewat Media Sosial, Loud Quitting Juga Dilakukan melalui Cara Terbuka Ini
“Dia sudah menentukan agendanya sendiri, (tetapi) sebagian besar tumpang tindih dengan minat dan hasrat ayahnya.”
Pangeran William juga diharapkan bersiap jika kondisi kesehatan ayahnya memburuk, namun kepemimpinan itu bisa datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Dan, hal itu menegangkan.
“William merasakan tanggung jawab yang besar untuk menjaga stabilitas monarki dan menginspirasi kepercayaan masyarakat bahwa semuanya akan baik-baik saja.