Survei tersebut melibatkan konsumen di 17 pasar internasional mengenai produk mana yang mungkin mereka pertimbangkan sebagai produk bekas.
Terungkap bahwa pakaian dan sepatu merupakan salah satu kategori produk yang kemungkinan besar akan dipertimbangkan oleh konsumen untuk dibeli sebagai barang preloved atau barang bekas.
Baca Juga: Long Weekend, Jangan Lupa Ke PRJ! Tetap Buka Saat Idul Adha
Lebih dari sepertiga konsumen di seluruh pasar (35%) akan mempertimbangkan untuk membeli pakaian dan sepatu bekas.
Kemudian, perempuan secara signifikan lebih mungkin mempertimbangkan hal ini dibandingkan laki-laki (40% vs 29%).
Data yang tersedia dari masing-masing pasar menunjukkan bahwa 50% masyarakat Inggris kemungkinan besar akan mempertimbangkan untuk membeli sepatu dan pakaian bekas.
Sedangkan Swedia (49%) berada di urutan kedua, dan Amerika (45%) di peringkat ketiga.
Orang Asia lebih kecil kemungkinannya dibandingkan orang Eropa untuk memilih pakaian dan sepatu bekas.
Di Asia, konsumen di Indonesia (22%) memiliki kemungkinan terbesar untuk membeli barang preloved khususnya pakaian dan sepatu.
Konsumen dari pasar Asia lainnya yang disurvei –Hong Kong (12%)– adalah konsumen yang paling kecil kemungkinannya untuk memilih produk pakaian bekas, terutama dalam hal pakaian dan sepatu.
Warga India (16%) unggul empat poin di atas warga Hong Kong yang berada di peringkat terbawah.
Baca Juga: Studi: 1 dari 5 Karyawan di Seluruh Dunia Ternyata Kesepian
17 Negara yang bersedia membeli barang preloved
Inggris (50%)
Swedia (49%)
Amerika (45%)
Australia (44%)
Denmark (43%)
Polandia (43%)
Kanada (40%)
Prancis (37%)
Jerman (32%)
Meksiko (32%)
Spanyol (28%)
Italia (25%)
Indonesia (22%)
Singapura (20%)
UAE (19%)
India (15%)
Hong Kong (12%)