Lingkungan tempat terjadinya perilaku tidak beradab mempengaruhi perasaan orang terhadap rekan kerja yang mengganggu. Sebanyak 62% pernah menghadapi perilaku menjengkelkan di tempat kerja secara langsung.
Misalnya, 44% karyawan hybrid atau jarak jauh menganggap rekan kerja mereka mengganggu melalui email dan Slack, dan 29% merasa terganggu ketika menerima video call, dan 37% dengan voice call.
Baca Juga: Kolaborasi Kopi Kenangan dengan Tahilalats dan One Piece, Rasa Lebih Fruity dan Segar
Di antara karyawan hybrid, 53% percaya bahwa sistem hybrid telah meminimalkan pengalaman bekerja dengan rekan kerja yang menyebalkan.
Kemudian 33% karyawan Gen Z —yang mungkin lebih melek teknologi dan mungkin sudah mulai bekerja saat lockdown— percaya bahwa kerja digital telah meningkatkan perilaku tidak menyenangkan.
Sedangkan 41% responden yang berurusan dengan rekan kerja yang menyebalkan berharap bisa memberitahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan tentang rekan kerjanya.
Sementara 32% berharap bisa menjauhkan diri dari rekan kerja tersebut. Sebanyak 9% mengakui bahwa mereka cenderung menjadi pasif-agresif.
Kemudian 11% responden berharap rekan kerja mereka dipecat karena perilakunya, dan 5% lainnya bahkan menginginkan ada tindakan kekerasan terhadap rekan kerja yang menjengkelkan.
Baca Juga: Lowongan Kerja di IBM Sebagai Brand Partner Specialist - Data & AI Sales
Mereka yang benar-benar menghadapi rekan kerja yang menyebalkan, langsung meminta rekan kerja tersebut untuk menghentikan perilakunya.
Sementara 12% memilih untuk melampiaskan rasa frustrasinya kepada rekan kerja lain, dan 12% melaporkannya ke manajemen atau HR.