Iran Watch mengatakan varian terbaru dari Shahab-3, rudal Ghadr dan Emad, memiliki akurasi hampir 300 meter dari target yang dituju.
Rudal Hipersonik?
Sementara itu media Iran melaporkan bahwa Teheran menggunakan rudal baru, Fattah-1, dalam serangan tersebut.
Teheran menggambarkan Fattah 1 sebagai rudal “hipersonik”. Ini berarti rudal tersebut melaju dengan kecepatan Mach 5, atau lima kali kecepatan suara (sekitar 3.800 mil per jam, 6.100 kilometer per jam).
Namun para analis menunjukkan bahwa hampir semua rudal balistik mencapai kecepatan hipersonik selama penerbangannya. Terutama saat mereka menukik menuju sasarannya.
Istilah “hipersonik” sering digunakan untuk merujuk pada apa yang disebut kendaraan luncur hipersonik dan rudal jelajah hipersonik. Dalam persenjataan, ini artinya senjata canggih yang dapat bermanuver dengan kecepatan hipersonik di dalam atmosfer bumi.
Dengan kecepatan hipersonik ini membuat senjata semacam itu sangat sulit untuk ditembak jatuh.
Dan menurut Fabian Hinz, peneliti di Institut Internasional untuk Studi Strategis, yang menulis tentang topik ini tahun lalu, Fattah 1 bukanlah salah satu dari kedua hal tersebut.
Masih menurut Hinz, Fattah 1 tampaknya seperti sebuah hulu ledak pada wahana yang dapat bermanuver kembali. Hal ini memungkinkannya menghindari pertahanan rudal saat posisi menghunjam menuju ke sasarannya. Posisi ini waktunya sangat singkat.
Akan tetapi Hinz juga mengakui bahwa hal ini menjadi peningkatan kemampuan rudal-rudal Iran sebelumnya.
“Ini adalah salah satu rudal balistik terbaru mereka, dan mereka akan mengalami banyak kerugian jika menggunakannya,” kata Trevor Ball skeptis. Trevor Ball adalah mantan teknisi senior persenjataan di Angkatan Darat AS.
***