Ia bahkan dilecehkan oleh seorang supervisor karena dirinya yang bekerja sangat lamban.
“Karena Darwin panas dan ini adalah pertama kalinya saya melakukan pekerjaan berat, saya bekerja dengan lamban. “Tangan kanan bos memaki-maki saya dengan kata-kata kotor,” ujarnya.
Bukan dibayar, malah diminta bayaran
Baca Juga: Kejutan! 6 Tokoh Perempuan Ini Dipanggil Prabowo ke Kertanegara, Fix Bakal Jadi Menteri?
Bukannya mendapat bayaran besar seperti yang dijanjikan agen, Dimas dan Bella malah harus membayar.
Pasangan ini diharuskan membayar 100 dolar per minggu untuk akomodasi yang sangat kotor dan tidak layak huni yang mereka tempati. Padahal, hal itu tidak pernah disebutkan sebelum kedatangan mereka.
“Kami tidak bisa minum air di peternakan karena kotor, jadi kami harus membeli air. Tempat itu tidak layak huni. Toiletnya juga sangat kotor,” cerita mereka.
Setelah bisa membeli kartu SIM untuk menelepon dan berjalan kaki hingga mendapatkan sinyal, mereka menghubungi grup Facebook yang dibuat untuk membantu orang Indonesia di Northern Territory yang memiliki Working Holiday Visa.
Untungnya, seseorang menawarkan diri untuk menjemput mereka.
Ketika atasan Dimas dan Bella mereka mendengarnya, mereka panik karena telah mempekerjakan orang dengan visa yang tidak memiliki hak untuk bekerja.
Baca Juga: SKD CPNS 2024 Siap Digelar 16 Oktober, Peserta Wajib Lakukan Face Recognition dan Scan Barcode
Agar tidak ditangkap, keduanya dibawa ke Danau Bennett, lokasi terdekat yang ditandai di Google Maps, agar tak dijemput di lokasi tempat mereka bekerja.
Sekarang, Dimas dan Bella bekerja di industri perhotelan di Darwin. Mereka meminta orang Indonesia untuk tidak tergiur dengan janji palsu di media sosial soal bekerja menggunakan Visa Liburan dan Kerja.
Mereka juga bilang untuk jangan malu atau segan meminta bantuan kepada sesama orang Indonesia lainnya saat ingin bekerja di Australia. (Elga Windasari)