news

Kejahatan Menggunakan Deepfake dan Uang Kripto di Asia Tenggara Sebabkan Kerugian Hingga Rp575,1 Triliun!

Rabu, 16 Oktober 2024 | 14:59 WIB
Ilustrasi penjahat yang memanfaatkan deepfake AI untuk aksi mereka. (Freepik)

Masih dalam laporan ini, Telegram menjadi saluran utama yang digunakan jaringan criminal tersebut. Telegram, dengan jangkauan yang luas dan minim moderasi, disebut memudahkan penjahat dunia maya ini untuk beroperasi tanpa takut akan hukuman.

Iklan terkait deepfake di platform seperti Telegram juga meningkat 600 persen antara Februari dan Juli 2024.

Karena para kriminal ini memanfaatkan Telegram, CEO Telegram Pavel Durov kena getahnya. Durov sempat ditangkat di Perancis karena dituduh membiarkan aktivitas kriminal di Telegram. 

Durov kemudian berjanji menghapus beberapa fitur yang disalahgunakan oleh para penjahat. Dan pada akhir September, Durov juga memberi tahu pengguna bahwa Telegram akan mengungkapkan alamat IP dan nomor telepon beberapa tersangka teror kepada pihak berwenang.

 

Memanfaatkan Kripto Untuk Cuci Uang

Platform judi online yang tidak diatur dan penyedia layanan aset virtual (VASP) yang juga sering tidak sah (illegal) menjadi faktor lain meningkatnya kejahatan

Menurut laporan UNODC keduanya membantu penjahat di Asia Tenggara untuk melakukan pencucian uang. Disampaikan dalam la;poran tersebut, sebanyak 43 persen dana terkait penipuan tahun ini disalurkan ke dompet digital yang baru dibuka pada tahun 2024.

Pihak berwenang mengalami kesulitan dalam mendeteksi aksi penipuan, pencucian uang, dan penipuan daring. Ini karena aset digital yang dilapisi enkripsi sistem blockchain.

Sebanyak 70 persen transaksi penipuan terkait mata uang kripto secara global pada tahun 2023 menggunakan stablecoin.

Menurut Investopedia.com, stablecoin adalah mata uang kripto yang nilainya dipatok, atau diikat atau distabilkan, dengan mata uang, komoditas, atau instrumen keuangan lain, misal emas atau Dollar AS..

Stablecoin bertujuan untuk memberikan alternatif terhadap tidak stabilan yang tinggi dari mata uang kripto paling populer, termasuk Bitcoin (BTC). Ketidka stabilan ini membuat investasi kripto kurang cocok untuk transaksi sehari-hari.

Menurut laporan UNODC, Tether (USDT) pada blockchain TRON (TRX) menjadi opsi pencucian uang pilihan kriminal. Hampir setengah dari semua transaksi mata uang kripto ilegal terjadi pada blockchain TRON.

Menurut Kompas.com yang menghimpun data dari The Register pada Rabu (16/04/2024), besarannya mencakup sekitar 45 persen dari total volume ilegal. Angka ini meningkat dari tahun 2022 yang di angka 41 persen. Di bawahnya Ethereum dengan angka 24 persen. Bitcoin mencapai 18 persen.

Halaman:

Tags

Terkini