news

The 'Lipstick Effect': Daya Beli Turun tapi Banyak Warga yang Masih Bisa Liburan, Kok Bisa Sih?

Sabtu, 1 Februari 2025 | 19:24 WIB
Ilustrasi: Katanya daya beli masyarakat menurun, tetapi masih banyak yang bisa liburan. Inilah fenomena Lipstick Effect. (Unsplash/Jun Weng)

PejuangKantoran.com – Pada masa libur long weekend pekan lalu, kepadatan lalu lintas tampak di ruas jalan Tol Jakarta-Cikampek. Sampai-sampai, petugas harus memperpanjang rekayasa lalu lintas contraflow satu lajur dari KM 65 sampai KM 47.

Peristiwa selama masa libur Imlek 2025 tersebut tak lepas dari pengamatan Profesor Rhenald Kasali. Ia menilai masyarakat kini mencari hiburan yang terjangkau untuk berekreasi. Terbukti, tempat-tempat hiburan dipenuhi pengunjung hingga menyebabkan kemacetan.

"Libur panjang, jalanan macet kembali, dan hari libur tahun ini diperkirakan lebih dari 100 hari dalam setahun, banyak libur ditambah sabtu minggu," tulisnya di akun Instagram @rhenald.kasali, Rabu (29/1/2025).

Baca Juga: Kesenjangan Upah antara Laki-Laki dan Perempuan di Eropa Makin Besar, Posisi C-Suite Didominasi Kaum Pria

Padahal, kondisi ekonomi Indonesia yang saat ini diwarnai penurunan daya beli hingga pemutusan hubungan kerja alias PHK.

"Kenapa jalan tetap ramai? Padahal, banyak yang mengatakan daya beli turun, jumlah kelas menengah berkurang, pengangguran banyak, orang kena PHK banyak," tutur Rhenald.

Guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia itu menyebut, umumnya masyarakat mencari kemewahan untuk mendapatkan kebahagiaan dengan cara yang terjangkau, yakni melakukan aktivitas liburan.

"Masyarakat selalu mencari kemewahan bagi dirinya, untuk mendapatkan kebahagiaan, tetapi yang dicari adalah semakin yang terjangkau, liburan," terangnya.

Daya beli turun tapi penjualan meningkat

Fenomena itu, menurut Rhenald, kerap disebut dengan istilah “Lipstick Effect”, yang mengacu pada kondisi perubahan gaya konsumsi masyarakat dalam kondisi ekonomi tertentu.

Baca Juga: Tak Mudah Jadi Pemimpin Rapat, Ini 9 Cara Agar Bisa Mengakhiri Rapat dengan Sukses dan Efektif

Istilah “Lipstick Effect” pertama kali dicetuskan oleh Chairman Emeritus The Estee Lauder Companies Inc Leonard Lauder saat tragedi 9/11 di Amerika Serikat (AS).

Saat itu, daya beli masyarakat turun dan membuat mereka sulit mencari pekerjaan, namun Lauder melihat keanehan terhadap penjualan lipstik yang justru meningkat.

"Jadi, terjadilah efek yang disebut sebagai kemewahan yang terjangkau, dan lipstick adalah satu kemewahan yang harganya tidak terlalu mahal. Lalu juga skincare, itu terbukti banyak laku ketika terjadi COVID-19," terang Rhenald.

Mitigasi risiko penurunan daya beli

Halaman:

Tags

Terkini