“Jika ini terjadi tanpa persetujuan dan kompensasi, maka bisa jadi masalah besar,” ujarnya.
Walaupun secara hukum, gaya visual tidak bisa diklaim sebagai hak cipta, ia menambahkan bahwa ada elemen-elemen spesifik dalam karya Ghibli yang mungkin bisa diperdebatkan sebagai pelanggaran hak cipta.
Baca Juga: Habis Nonton TV Malah Nggak Bisa Rileks? Ini 4 Tanda bahwa Kamu Stres setelah Menonton Tayangan TV
Sementara itu, Karla Ortiz, seniman yang juga menggugat beberapa image generator AI terkait pelanggaran hak cipta, menganggap demam Ghibli ini sebagai eksploitasi.
“Mereka menggunakan nama Ghibli, karya mereka, dan reputasi mereka untuk mempromosikan produk OpenAI. Ini penghinaan,” kata Ortiz.
Situasi semakin panas ketika Gedung Putih ikut-ikutan nimbrung pakai tren ini dengan memposting gambar bergaya Ghibli dari seorang wanita yang menangis setelah ditangkap agen imigrasi AS.
Ortiz pun semakin marah. “Melihat sesuatu yang seindah karya Miyazaki disalahgunakan seperti ini benar-benar menyakitkan,” tulisnya di media sosial.
Baca Juga: Pentingnya Diadakan Kegiatan Team Building di Kantor melalui Berbagai Games dan Aktivitas Seru Lain
Dengan semua kontroversi ini, masa depan seni dan AI masih jadi tanda tanya besar. Di satu sisi, teknologi ini memungkinkan lebih banyak orang untuk menciptakan karya seni yang mereka sukai.
Namun di sisi lain, bagaimana nasib seniman manusia kalau karya mereka bisa direplikasi dengan satu klik? Mungkin pertanyaan terbesar adalah, apakah kita benar-benar siap dengan konsekuensi dari semua ini?