Budaya “saving face” alias menjaga harga diri juga kental banget. Kalau ada masalah, biasanya disampaikan secara halus atau bahkan secara tidak langsung. Akibatnya, masalah baru ketahuan setelah telanjur jadi besar.
Sisi positifnya? Suasana kantor relatif adem dan nggak banyak drama. Tetapi kamu harus jeli, karena kadang perlu jadi pihak yang inisiatif menyelesaikan masalah. Tentunya dengan cara yang tetap sopan, ya!
Jam kerja yang lebih panjang
Warga Singapura dikenal dengan dedikasi kerja yang nggak kenal lelah. Mereka sering kerja berjam-jam dan berusaha ekstra keras untuk menyelesaikan pekerjaan, meskipun harus mengorbankan waktu pribadi.
Karena alasan ini, rata-rata jam kerja tahunan menurut Ministry of Power Employment Act pada tahun 2022 adalah 44,1 jam per minggu. Pembagiannya sebagai berikut:
• 9 jam/hari selama 5 hari/minggu atau kurang
• 8 jam/hari selama lebih dari 5 hari/minggu
Baca Juga: Siapa yang Mau Pindah ke Kanada? Ikuti Program RCIP Ini dan Dapatkan Izin Tinggal Permanen di Sana!
Mentalitas “kiasu” yang mendorong kompetisi
Istilah “kiasu” (takut ketinggalan) jadi budaya kerja di Singapura yang sangat khas. Dalam konteks kerja, ini berarti banyak yang sangat kompetitif.
Bahkan hal-hal kecil, seperti anggaran proyek, bisa bikin rekan kerja minta penyesuaian supaya departemen mereka nggak kelihatan kalah penting.