news

7 Hal yang Perlu Kamu Ketahui soal Budaya Kerja di Singapura (dan Butuh Banyak Adaptasi)

Minggu, 20 April 2025 | 22:03 WIB
Ilustrasi: Buat yang mau kabur aja dulu ke Singapura, ketahui budaya kerjanya yang butuh banyak adaptasi! (Unsplash/Jiachen Lin)

Budaya “saving face” alias menjaga harga diri juga kental banget. Kalau ada masalah, biasanya disampaikan secara halus atau bahkan secara tidak langsung. Akibatnya, masalah baru ketahuan setelah telanjur jadi besar.

Sisi positifnya? Suasana kantor relatif adem dan nggak banyak drama. Tetapi kamu harus jeli, karena kadang perlu jadi pihak yang inisiatif menyelesaikan masalah. Tentunya dengan cara yang tetap sopan, ya!

 

Baca Juga: Tren Rambut Mul Gyul Waves dari Korea yang Lagi Hits Banget, Bikin Tampilan Elegan Tapi Tetap Natural

Jam kerja yang lebih panjang

Warga Singapura dikenal dengan dedikasi kerja yang nggak kenal lelah. Mereka sering kerja berjam-jam dan berusaha ekstra keras untuk menyelesaikan pekerjaan, meskipun harus mengorbankan waktu pribadi.

Karena alasan ini, rata-rata jam kerja tahunan menurut Ministry of Power Employment Act pada tahun 2022 adalah 44,1 jam per minggu. Pembagiannya sebagai berikut:

• 9 jam/hari selama 5 hari/minggu atau kurang

• 8 jam/hari selama lebih dari 5 hari/minggu

 

 

Baca Juga: Siapa yang Mau Pindah ke Kanada? Ikuti Program RCIP Ini dan Dapatkan Izin Tinggal Permanen di Sana!

Mentalitas “kiasu” yang mendorong kompetisi

Istilah “kiasu” (takut ketinggalan) jadi budaya kerja di Singapura yang sangat khas. Dalam konteks kerja, ini berarti banyak yang sangat kompetitif.

Bahkan hal-hal kecil, seperti anggaran proyek, bisa bikin rekan kerja minta penyesuaian supaya departemen mereka nggak kelihatan kalah penting.

Halaman:

Tags

Terkini