news

Cerita Vishwashkumar Ramesh, Korban Selamat Air India, dan Para Penyintas Tunggal dalam Sejarah Kecelakaan Pesawat Lainnya

Selasa, 17 Juni 2025 | 13:24 WIB
Ilustrasi pesawat Air Iindia, Boeing 787 Dreamliner yang mengalami kecelakan dan menewaskan hampir seluruh penumpangnya dan hanya menyisakan satu orang penumpang yang selamat. (Aeroprints.com)

Pada 2018, Mailén Díaz Almaguer menjadi satu-satunya yang selamat dari kecelakaan pesawat di Kuba, usai dua penyintas lain meninggal akibat luka berat.

Beberapa kasus lain juga melibatkan anak-anak.

Pada 1987, Cecelia Crocker yang saat itu berusia empat tahun selamat dari kecelakaan di Michigan yang menewaskan 154 orang. Ia masih memiliki bekas luka dan bahkan membuat tato berbentuk pesawat sebagai simbol pengingat.

Pada 2009, Bahia Bakari yang berusia 12 tahun berhasil bertahan di laut selama lebih dari 11 jam setelah pesawat jatuh di Samudra Hindia. Ia berhasil bertahan dengan cara berpegangan pada serpihan puing pesawat.

Ada juga Ruben van Assouw yang selamat saat masih kecil dari kecelakaan di Libya, yang ditemukan hidup dan dalam kondisi tidak sadarkan diri.

Baca Juga: Aturan Membawa Powerbank di Pesawat untuk Mencegah Risiko Kebakaran seperti Insiden Air Busan

Bertahan hidup tidak selalu menjadi akhir bahagia

Meski selamat, banyak penyintas harus menjalani proses pemulihan fisik dan emosional yang panjang.

Disebut sebagai orang-orang yang beruntung, tetapi bagi sebagian penyintas, pengalaman hidup setelah kejadian menjadi lebih berat.

Seperti yang disampaikan George Lamson Jr, satu-satunya penyintas kecelakaan pesawat pada 1985.

Ia mengatakan meski hidup terus berjalan, tetapi bayang-bayang peristiwa itu bisa muncul kembali kapan saja.

Jadi, tak heran jika para penyintas ini juga disebut sebagai korban, meskipun mereka selamat. ***

Halaman:

Tags

Terkini