news

Analisis MIT: 95% Uji Coba Penerapan AI Generatif di Perusahaan Gagal, Apa Penyebabnya?

Rabu, 20 Agustus 2025 | 08:30 WIB
Ilustrasi: Sekitar 95% uji coba penerapan AI di perusahaan berujung kegagalan. Mengapa bisa begitu? (PejuangKantoran.com/Meta AI)

Salah satu temuan penting lainnya adalah masalah alokasi anggaran yang tidak tepat. Lebih dari setengah anggaran AI generatif justru digunakan untuk divisi sales dan marketing.

Padahal, menurut MIT, return on investment (ROI) terbesar sebenarnya ada di otomatisasi back-office: seperti mengurangi ketergantungan pada vendor outsourcing, memotong biaya agensi eksternal, dan mempercepat proses internal.

Baca Juga: Job Fest 2025 Hadir Lagi, Gubernur DKI Minta Pelatihan Bahasa Asing untuk Penuhi Pasar Kerja Luar Negeri

Laporan ini juga menekankan perbedaan hasil antara perusahaan yang membeli teknologi AI dari vendor khusus dan perusahaan yang mencoba membangun sistem AI sendiri.

Implementasi yang mengandalkan vendor justru 67% lebih sukses, sementara penerapan AI di perusahaan yang dibangun oleh internal perusahaan hanya berhasil sekitar sepertiganya.

Hal ini cukup relevan untuk sektor keuangan dan industri yang harus banyak mengikuti regulasi, karena banyak perusahaan di bidang ini berusaha membuat sistem AI sendiri demi alasan kontrol data. Namun faktanya, pendekatan tersebut sering gagal.

“Hampir semua perusahaan yang kami temui mencoba membangun tool AI internal,” kata Aditya. “Tapi datanya jelas menunjukkan bahwa solusi yang dibeli dari vendor lebih konsisten hasilnya.”

Tergantung siapa yang memimpin

Keberhasilan AI juga sangat bergantung pada siapa yang memimpin penerapan AI di perusahaan. Jika hanya lab pusat atau tim AI saja yang menjalankan, biasanya programnya berhenti di dokumentasi.

Sebaliknya, perusahaan yang memberikan mandat kepada manajer lini (line managers) agar ikut menentukan penggunaan AI, cenderung lebih berhasil.

Baca Juga: Selain Beasiswa, Asisten Riset Bisa Jadi Cara Pintar untuk Biayai Kuliah Kamu di Luar Negeri

Dampak terhadap tenaga kerja juga sudah mulai terlihat, terutama di posisi customer service dan admin. Bukannya melakukan PHK massal, banyak perusahaan memilih tidak mengganti posisi yang kosong (tidak melakukan backfill) karena sudah digantikan oleh AI.

Efek terbesarnya justru pada pekerjaan-pekerjaan yang sebelumnya sudah dialihdayakan.

Yang menarik, laporan ini juga menyebut fenomena “shadow AI”, atau penggunaan ChatGPT dan tools lain secara diam-diam oleh karyawan tanpa izin perusahaan. Hal ini memperlihatkan betapa cepatnya AI diadopsi individu meski secara institusi belum siap.

Beberapa perusahaan paling maju bahkan sudah menguji “agentic AI”, yaitu sistem yang bisa belajar, menyimpan memori, dan bertindak secara semi-otomatis dalam batas tertentu. Teknologi ini diperkirakan akan menjadi tahap lanjutan AI di dunia enterprise.

Halaman:

Tags

Terkini