PejuangKantoran.com - Maskapai penerbangan di kawasan Timur Tengah termasuk dalam daftar maskapai dengan pelayanan yang mewah dan berkelas. Etihad, Emirates, Saudia, juga Qatar Airways terus menambah armadanya dengan pesawat-pesawat baru dan membuka rute jarak jauh yang ambisius.
Dengan pesawat berbadan lebar baru, rute jarak jauh ke Eropa, Asia, dan Amerika, serta munculnya bandara modern di berbagai kawasan tersebut menjadikan Timur Tengah sebagai pusat penghubung baru dunia.
Namun, maskapai-maskapai Timur Tengah ini ternyata menghadapi tantangan besar: kekurangan pilot. Menurut laporan dari konsultan Oliver Wyman, permintaan terhadap pilot di kawasan ini akan melampaui jumlah ketersediaan kalau pelatihan dan rekrutmen nggak buru-buru dipercepat.
Masalah ini tidak hanya relevan bagi industri penerbangan, tapi juga bagi para pelancong global yang sering transit atau terbang melalui Dubai, Abu Dhabi, atau Riyadh. Kekurangan pilot bisa memengaruhi kualitas layanan dan jadwal penerbangan.
Mengapa kekurangan pilot terjadi?
Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya kekurangan pilot. Selama pandemi COVID-19, banyak pilot yang dirumahkan atau bahkan berpindah profesi.
Program sertifikasi baru pun sempat melambat karena pembatasan sosial. Sementara itu, pertumbuhan armada pesawat justru melonjak tajam setelah pandemi berakhir.
Akibatnya, permintaan dan ketersediaan pilot kini tidak lagi seimbang. Menurut proyeksi Oliver Wyman, kekurangan pilot di Timur Tengah bisa mencapai 18.000 orang pada 2032 jika tidak ada langkah nyata.
“Timur Tengah diprediksi akan menjadi kawasan pertama yang merasakan tekanan kekurangan tenaga ini,” tulis laporan tersebut.
Baca Juga: Panduan Menentukan Perusahaan Incaran dengan Melihat EVP atau Janji Surga Perusahaan Tersebut
Dampaknya bagi wisatawan bisa beragam. Di satu sisi, maskapai mungkin akan menyesuaikan jadwal penerbangan atau menunda pembukaan rute baru. Di sisi lain, mereka juga mulai berinvestasi besar-besaran dalam pelatihan dan kesejahteraan awak kabin.
Akademi pelatihan pilot di Dubai, Doha, dan Abu Dhabi kini mencatat lonjakan pendaftaran. Maskapai mulai menawarkan program kadet dan jalur karier terstruktur bagi calon pilot muda.
Teknologi juga memainkan peran penting. Penggunaan virtual reality (VR) dan augmented reality (AR) dalam pelatihan kini semakin umum. Pendekatan ini membuat proses pembelajaran lebih efisien dan realistis.
Jadi, meski kekurangan pilot di maskapai-maskapai Timur Tengah itu kesannya mengkhawatirkan, dampak jangka panjangnya justru bisa positif bagi penumpang.