Pejuangkantoran.com – Kalau melihat pekerja di Jepang, mereka tampak sekali sebagai pekerja keras. Datang pagi, pulang malam sepertinya menjadi hal yang umum terjadi pada pekerja formal di Jepang, terutama di kota-kota besar.
Ini tidak terlepas dari sistem kerja di Jepang yang sangat terstruktur, efisien, dan fokus pada kualitas. Ini sebenarnya cerminan dari prinsip-prinsip dalam budaya tradisional Jepang, seperti:
Misal budaya Kaizen (perbaikan berkelanjutan), Konsep Kaizen menekankan perbaikan kecil dan konsisten dalam setiap proses. Hasil dari budaya ini adalah kualitas produk tinggi, minim kesalahan, dan peningkatan efisiensi jangka panjang.
Banyak perusahaan global (seperti Toyota dan Sony) menerapkan prinsip ini.
Lalu budaya giri dan on adalah rasa tanggung jawab kolektif yang mendorong mereka bekerja demi kehormatan tim dan perusahaan. Pegawai Jepang memiliki etos kerja kuat, datang tepat waktu, dan menjaga komitmen pada tim.
Kemudian budaya shūdan ishiki (kolaborasi) yang membuat keputusan diambil melalui musyawarah dan konsensus (nemawashi). Hal ini memperkuat koordinasi dan meminimalkan konflik internal.
Sistem manajemen seperti Just-In-Time (JIT) dan lean production berasal dari Jepang. Efektivitasnya terbukti di industri manufaktur dan logistik dunia.
Efisien Tak Berarti Produktif
Di sisi lain, meskipun terkenal dengan efisien dalam sistem, namun pada kenyataannya produktivitas jam kerja di Jepang relatif rendah.
Seperti yang disampaikan di Nippon.com (07/01/2025), produktivitas pekerja di Jepang berada di ranking 29 dari 38 negara OECD (Organization for Economic Cooperation and Development).
OECD ini adalah organisasi internasional yang beranggotakan 38 negara yang berkomitmen pada demokrasi dan ekonomi pasar. Tujuannya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan lapangan kerja, dan meningkatkan standar hidup di seluruh dunia.
Jam kerja panjang yang kerap dijumpai di Jepang ternyata tak selalu berkorelasi dengan produktivitas. Banyak karyawan “tampil sibuk” karena tekanan sosial, bukan karena benar-benar efisien.
Lalu hierarki dan senioritas yang kuat menyebabkan ide-ide baru menjadi sulit muncul dari generasi muda. Pengambilan keputusan lambat karena proses persetujuan berlapis.
Artikel Terkait
4 Cara untuk Mengurangi Jam Kerja dalam Seminggu, Tak Perlu Lagi Kerja “9 to 5” Setiap Hari
3 Cara Meningkatkan Kolaborasi di Tempat Kerja agar Tak Ada Karyawan yang Beban Kerjanya Lebih Besar
Budaya Kerja Toksik Bisa Jadi Biang Kerok Impostor Syndrome, Bikin Karyawan Kehilangan Percaya Diri
Nemawashi, Filosofi Jepang yang Membantu Kita Membuat Keputusan yang Bikin Orang Merasa Dilibatkan
Sejarah Matcha di Dunia dan Indonesia Ternyata Bukan Asli Jepang dan Perkembangannya Didorong Pandemi!
Alih-alih Melakukan Work-Life Balance, Lakukan Work-Life Integration yang Lebih Realistis Saat Ini