Permintaan sederhana akan sepatu boot itu menjadi cerminan betapa mendesaknya kebutuhan perlindungan bagi anak-anak di wilayah terdampak bencana.
Ancaman luka akibat pecahan kaca dan paku masih membayangi kesehatan mereka setiap kali melangkah di tanah tempat mereka seharusnya merasa aman.
Kini, harapan anak-anak Aceh tersebut menggantung di ruang digital, menunggu kepedulian sang pemimpin agar langkah mereka tak lagi terluka oleh sisa-sisa bencana di lingkungan rumah sendiri.