PejuangKantoran.com - Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, tuntutan kerja tinggi, dan interaksi sosial yang makin minim, muncul satu profesi yang terdengar tak biasa, namun nyata dan berkembang pesat: professional cuddling atau terapis pelukan profesional.
Di Inggris, pekerjaan ini bukan sekadar tren aneh. Sejumlah praktisinya justru mampu meraup penghasilan besar, bahkan disebut-sebut bisa mencapai £100.000 per tahun.
Angka yang setara dengan miliaran rupiah, terutama jika dijalani secara penuh melalui sesi rutin, workshop, hingga kelas kelompok.
Baca Juga: Sekarang, Pengguna Bisa Menyeleksi atau Menghapus YouTube Shorts jika Ingin Mencari Video Panjang
Namun, profesi ini bukan soal romansa atau hubungan intim. Justru sebaliknya, inti dari professional cuddling adalah sentuhan non-seksual yang aman, penuh persetujuan, dan berfokus pada kesehatan emosional.
Klien datang bukan untuk pacaran, melainkan untuk merasakan kehangatan manusia, ketenangan, dan perasaan “didengar” tanpa dihakimi.
Para cuddle therapist yang telah menjalani pelatihan khusus biasanya mematok tarif sekitar £60–£75 per jam. Dalam sesi tersebut, batasan dan komunikasi menjadi fondasi utama.
Klien dan terapis akan menyepakati terlebih dahulu bentuk sentuhan yang nyaman, durasi, hingga aturan personal. Semua dilakukan secara profesional, transparan, dan etis.
Fenomena ini tumbuh seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental dan kebutuhan dasar manusia akan sentuhan. Studi psikologi menunjukkan bahwa sentuhan aman dapat membantu menurunkan hormon stres, meningkatkan rasa aman, serta memperbaiki suasana hati.
Tak heran jika industri ini sering disebut sebagai bagian dari “touch therapy”, mirip dengan mindfulness, hanya saja melibatkan pelukan.
Baca Juga: Godzilla Minus Zero Dijadwalkan Tayang di Bioskop pada November 2026
Menariknya, tidak semua pelaku menjadikan profesi ini sebagai sumber penghasilan utama. Bagi sebagian orang, professional cuddling adalah side hustle bermakna, cara membantu sesama yang kesepian, burnout, atau sedang menghadapi tekanan hidup, masalah yang sangat dekat dengan realitas pekerja kantoran saat ini.
Di era ketika rapat online menggantikan tatap muka dan jam kerja kerap melewati batas, profesi ini seolah menjadi pengingat bahwa koneksi manusia bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan. Dan di beberapa negara, kebutuhan itu kini bukan hanya diakui, tetapi juga dihargai secara profesional.