news

ChatGPT Kena Cancel Culture gara-gara OpenAI Teken Kontrak sama Militer Amerika Serikat?

Rabu, 4 Maret 2026 | 19:57 WIB
CEO OpenAI, Sam Altman, mengakui keputusannya menandatangani kontrak militer dengan pemerintah dilakukan secara terburu-buru. (OpenAI)

Meski begitu, OpenAI mencoba membela diri. Mereka mengklaim punya batasan yang lebih kuat daripada yang diajukan sebelumnya.

Mereka menegaskan ada tiga hal yang nggak boleh dilakukan dengan model AI mereka, yaitu pengawasan massal domestik, sistem senjata otonom, dan pengambilan keputusan otomatis yang berisiko tinggi (seperti sistem skor sosial).

Baca Juga: Eindhoven: Kota Paling “Bebas Stres” di Dunia yang Belum Banyak Orang Tahu 

Namun, banyak orang nggak percaya begitu saja. Salah satu yang paling kritis adalah Mike Masnick dari Techdirt. Menurutnya, janji OpenAI soal privasi itu nggak lebih dari bahasa marketing.

Kesepakatan tersebut menyebutkan bahwa pengumpulan data harus mematuhi aturan tertentu (seperti Executive Order 12333).

Masnick berpendapat, ini adalah cara halus bagi lembaga seperti NSA untuk tetap bisa melakukan pengawasan dengan menyadap jalur komunikasi di luar negeri.

Jenius atau ceroboh?

Di sisi lain, tim OpenAI mencoba menjelaskan kalau teknologi mereka nggak akan langsung dipasang di moncong rudal atau sensor senjata. Mereka membatasi akses melalui Cloud API, jadi model AI-nya tetap berada di bawah pengawasan mereka, bukan ditanam langsung di perangkat keras militer.

Lalu, kenapa OpenAI tetap nekat mengambil risiko kehilangan jutaan pelanggan demi kontrak ini?

Di sinilah Sam Altman membuat pertaruhan besar. Dia berharap langkah ini bisa menurunkan ketegangan antara pemerintah dan industri AI.

Baca Juga: Cara Ngasih Kritik Pedas tanpa Menyakiti Anak Buah, Biar Kamu Nggak Dianggap Bos yang Toxic

"Kalau yang kami lakukan ini benar dan bisa menurunkan tensi antara Departemen Pertahanan dan industri AI, kami bakal terlihat jenius. Tapi kalau gagal, ya kami bakal terus dicap sebagai perusahaan yang terburu-buru dan ceroboh," tukasnya.

Saat ini, masa depan hubungan antara AI dan militer masih jadi perdebatan panjang. Namun, satu hal yang pasti, kepercayaan pengguna sepertinya bakal sulit didapat kembali.

Ketika sebuah perusahaan teknologi mulai bermain-main di area abu-abu militer, mereka harus siap kehilangan dukungan dari komunitas yang membesarkan mereka.

Nah, gimana menurut kamu? Apakah kamu juga bakal ikut gerakan "Cancel ChatGPT"?

Halaman:

Tags

Terkini