"Orang-orang akan dituduh melakukan hal-hal yang sebenarnya tidak mereka perbuat," katanya.
Bukan cuma media sosial
Yang lebih mengkhawatirkan, Dr. Marc Juárez dari University of Edinburgh bilang kalau AI bisa menjangkau data di luar media sosial, seperti catatan rumah sakit atau data statistik lainnya.
Jika standar anonimitasnya rendah, data medis kamu juga bisa terlacak kembali ke diri kamu. "Ini cukup mengkhawatirkan. Saya rasa penelitian ini menunjukkan bahwa kita harus memikirkan kembali kebiasaan kita," kata Juarez.
Untungnya, AI bukan senjata ajaib yang tak terkalahkan. Terkadang, informasi yang tersedia terlalu sedikit untuk menarik kesimpulan.
"AI hanya bisa menghubungkan antarplatform jika seseorang secara konsisten membagikan potongan informasi yang sama di kedua tempat tersebut," jelas Prof. Marti Hearst dari UC Berkeley.
Baca Juga: Film 'Senin Harga Naik' Angkat Problematika Keluarga saat Ibu Menua dan Anak-Anak Sudah Dewasa
Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk mengantisipasi serangan hacker?
Lermen menyarankan agar penyedia platform memperketat akses data, seperti membatasi jumlah unduhan data pengguna dan mendeteksi sistem otomatis yang mencoba mengambil data secara massal.
Meski begitu, perlindungan terbaik tetap ada di tangan kita sendiri. Yok, lebih waspada dengan apa yang kita bagikan. Di era AI, detail kecil tentang anjing peliharaan atau taman favorit bisa jadi kunci yang membuka topeng kita.