news

Takut Pekerjaan Mereka Digantikan AI, 1 dari 10 Karyawan Muda Putuskan Ganti Haluan Karier

Rabu, 22 April 2026 | 19:04 WIB
Ilustrasi: Sebanyak 13% mahasiswa dan karyawan muda memutuskan pindah jalur karir karena takut pekerjaan mereka digantikan AI. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Wacana soal AI yang akan menggantikan tenaga kerja manusia itu ternyata menimbulkan kekhawatiran. Bahkan, banyak karyawan yang sudah mulai mengubah keputusannya.

Hal ini terungkap dari survei terbaru Prospects at Jisc dan Institute of Student Employers (ISE) terhadap 710 anak muda di Inggris. Lebih dari 1 dari 10 mahasiswa dan karyawan muda (13%) ternyata sudah pindah jalur karir mereka karena takut pekerjaan digantikan AI.

Angka ini naik 10% dari tahun sebelumnya. Kemudian, 34% responden lainnya mengaku sedang mempertimbangkan hal yang sama.

Baca Juga: Pekerjaan Entry-Level Makin Berkurang, Lalu Bagaimana Fresh Graduate Bisa Masuk Dunia Kerja?

Dari mereka yang sudah benar-benar mengubah rencana karirnya, hampir tiga perempatnya (69%) menyebut ketakutan bahwa pekerjaan mereka digantikan AI sebagai alasan utama.

Namun, survei ini tidak menyebut dengan jelas, apa yang dilakukan responden dengan mengubah rencana karir tersebut.

Kenyataan di lapangan

Kita mungkin menanggapi wacana tersebut dengan serius ya, sampai-sampai langsung ambil tindakan untuk pindah jalur karir. Tapi, fakta di lapangan sebenarnya seperti apa?

Gambaran di sisi perusahaan ternyata cukup berbeda. Survei yang juga melibatkan 30 anggota ISE ini menemukan bahwa lebih dari separuh perusahaan (53%) memperkirakan jumlah rekrutmen akan tetap stabil dalam tiga tahun ke depan.

Bahkan 27% perusahaan sudah mengantisipasi adanya peningkatan rekrutmen. Tidak ada satu pun yang memprediksi akan terjadi PHK besar-besaran akibat AI.

Baca Juga: Associated Press Pangkas Karyawan, Perkuat AI: Inovasi atau Ancaman bagi Jurnalisme?

Selain itu, sebagian besar perusahaan bilang AI sedang mengubah tanggung jawab di posisi entry level, bukan menghilangkan posisi itu sendiri. Tugas-tugas rutin seperti riset dasar, pekerjaan administrasi, dan penyusunan konten memang paling rentan.

Tapi pekerjaan yang butuh penilaian, komunikasi, dan kemampuan interpersonal masih sangat membutuhkan sentuhan manusia.

"Ada kesenjangan yang semakin besar antara cara anak muda memandang AI dan apa yang sebenarnya terjadi di dunia kerja,” ujar Chris Rea, pakar karier dari Prospects at Jisc, mengungkapkan keprihatinannya.

“Ketakutan soal kehilangan pekerjaan sudah mempengaruhi keputusan karir mereka, tapi sebagian besar perusahaan tidak mengurangi rekrutmen karena AI kok, setidaknya belum sekarang."

Halaman:

Tags

Terkini