Mengapa Karyawan Enggan Cerita ke Atasan? Diam soal Burnout Bisa Merugikan Perusahaan

photo author
Christina A.S, Pejuang Kantoran
- Kamis, 23 Juli 2026 | 08:05 WIB
"Wabah" burnout tak boleh didiamkan. Pemimpin harus mempunya strategi untuk mengatasinya. (Freepik)
"Wabah" burnout tak boleh didiamkan. Pemimpin harus mempunya strategi untuk mengatasinya. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Banyak pekerja memilih memendam masalah kesehatan mental yang mereka alami di tempat kerja. Alasannya beragam, mulai dari takut dianggap tidak profesional, khawatir peluang promosi tertutup, hingga tidak yakin perusahaan benar-benar akan membantu.

Padahal, keputusan untuk tetap diam justru dapat menjadi salah satu penyebab terbesar menurunnya produktivitas perusahaan.

Temuan tersebut muncul dalam riset terbaru British Standards Institution (BSI) bersama Centre for Economics and Business Research (CEBR). Secara global, hanya 22 persen pekerja yang pernah mengalami masalah kesehatan mental merasa percaya diri membicarakannya kepada atasan langsung. Angka itu bahkan turun menjadi sekitar 20 persen ketika berbicara kepada divisi Human Resources (HR).

Di sisi lain, sebanyak 57 persen responden mengaku kondisi kesehatan mental yang buruk pernah memengaruhi perkembangan karier mereka.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masih banyak pekerja yang belum merasa aman untuk menyampaikan tantangan yang mereka hadapi.

Baca Juga: Tren Work from Café Bermutasi Menjadi Pusat Produktivitas Baru. Mengapa Coffee Shop Berubah menjadi Hub Kreatif?

Ketika Kepercayaan Menjadi Produktivitas

BSI menyebut akar persoalannya bukan semata-mata kesehatan mental, melainkan budaya kepercayaan (culture of trust).

Ketika karyawan percaya bahwa perusahaan akan memberikan dukungan, mereka cenderung mencari bantuan lebih awal. Sebaliknya, jika mereka merasa akan dihakimi atau dirugikan, masalah kesehatan lebih sering dipendam hingga akhirnya berkembang menjadi burnout, absensi panjang, bahkan resign.

Temuan ini sejalan dengan penelitian Google melalui Project Aristotle yang menemukan bahwa faktor paling penting dalam membangun tim berkinerja tinggi bukanlah kemampuan teknis, melainkan psychological safety—lingkungan kerja yang membuat setiap orang merasa aman untuk berbicara tanpa takut dipermalukan.

Gallup juga menemukan bahwa manajer memiliki pengaruh besar terhadap kesejahteraan psikologis tim. Karyawan yang merasa didukung atasannya cenderung memiliki engagement lebih tinggi sekaligus risiko burnout lebih rendah.

Baca Juga: Rahasia Work-Life Balance Belanda: Jam Kerja Terpendek di Eropa

Budaya Aman Bukan Sekadar Program HR

Menurut Global Head of Human and Social Sustainability BSI Kate Field, membangun budaya saling percaya merupakan fondasi utama kesehatan kerja modern.

Bentuk dukungannya tidak selalu rumit. Penyesuaian beban kerja, fleksibilitas sementara, atau sekadar ruang untuk berdiskusi dapat membantu mencegah masalah berkembang menjadi lebih serius.

Pada akhirnya, perusahaan yang berhasil membangun psychological safety tidak hanya menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat, tetapi juga memperoleh produktivitas dan retensi karyawan yang lebih baik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X