Giliran Arsitek Pemula Was-Was Nggak Kebagian Posisi Entry Level karena Digantikan AI

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 23 Juli 2026 | 18:24 WIB
Ilustrasi: Hampir semua kantor arsitektur sekarang udah pakai AI buat sebagian besar proyek mereka. (Freepik/DC Studio)
Ilustrasi: Hampir semua kantor arsitektur sekarang udah pakai AI buat sebagian besar proyek mereka. (Freepik/DC Studio)

PejuangKantoran.com - Kalau kamu bekerja di dunia arsitektur atau lagi mikir mau masuk ke sana, ada kabar yang perlu kamu dengar nih. Royal Institute of British Architects (RIBA) baru saja merilis survei tahunan mereka soal pemakaian AI di kalangan arsitek. Hasilnya gimana?

Dari sisi adopsi, angkanya melejit begitu cepat. Tahun 2025, baru 59% praktik arsitektur yang menggunakan AI. Di tahun 2026 yang baru jalan tujuh bulan ini, angkanya sudah naik jadi 74%.

Artinya, hampir semua kantor arsitektur sekarang sudah memakai AI buat sebagian besar proyek mereka.

Baca Juga: Dari Maroko hingga Islandia, Ini 5 Lokasi Epik Pilihan Christopher Nolan untuk Syuting 'The Odyssey'

Tapi di balik angka itu, ada kekhawatiran yang makin besar. Pasalnya, sebanyak 59% responden meyakini potensi PHK bakal terjadi gara-gara AI. Yang lebih bikin resah, 61% merasa AI akan mengambil kesempatan kerja dari arsitek pemula.

Jangan bilang ini "hanya perasaan adek saja", ya. Bulan lalu, ada laporan mengenai minimnya posisi entry level di industri ini. Salah satu firma arsitektur, JTP, sampai kebanjiran 2.600 pelamar untuk mengisi sembilan posisi tersebut tahun lalu. 

Presiden RIBA, Chris Williamson, memang mengatakan bahwa dampak AI kemungkinan paling terasa di posisi entry level dan early-career.

"Kalau itu benar terjadi, apa artinya buat masa depan profesi ini? Kalau makin sedikit orang yang punya kesempatan membangun kemampuan dasar lewat pengalaman awal karier, bagaimana caranya praktik arsitektur bisa mendukung generasi arsitek berikutnya?" tukas Williamson.

Cas Esbach, profesor arsitektur di Savannah College of Art and Design yang dulu juga pernah bekerja di kantor arsitektur MVRDV, punya pandangan yang tajam mengenai hal ini.

"Angka 61 persen itu seharusnya membuat semua praktik arsitektur berhenti sejenak dan mulai berpikir," kata Esbach.

Baca Juga: Sudah 950 Juta Orang yang Pakai Gemini Setiap Bulan, Jauh Melampaui Ekspektasi Alphabet

Menurutnya, tugas-tugas produksi yang sekarang diambil alih AI, seperti membuat gambar kerja, jadwal, atau koordinasi, itu merupakan tugas-tugas yang selama ini menjadi tugas arsitek muda.

Dengan tugas-tugas itu, mereka belajar bagaimana sebuah bangunan itu benar-benar terbentuk, dari keputusan sampai jadi gambar teknis.

Esbach menambahkan, proses magang itu sekarang diotomatisasi tanpa ada pengganti yang sengaja dirancang untuk proses belajarnya. Bayangkan akibatnya, 10 tahun lagi mungkin industri bakal punya generasi yang jago bikin prompt AI, tapi lemah dalam kemampuan menilai.

Padahal, katanya, kemampuan menilai itu justru satu-satunya hal yang menurut laporan ini nggak bisa digantikan AI.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Architectsjournal.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X