Menurutnya, informasi yang tidak akurat bisa mendorong kecemasan yang tidak perlu dan perubahan karir yang terlalu terburu-buru.
Siapa yang lebih siap?
Survei ini juga mengamati perbedaan yang cukup mencolok di antara para responden. Mereka yang merasa lebih siap, baik karena kualifikasi, pengalaman, maupun kemampuan AI yang sudah mulai dikuasai, cenderung memandang AI sebagai peluang. Mereka lebih penasaran, bahkan antusias.
Sebaliknya, mereka yang merasa kurang siap ternyata mengalami tingkat kecemasan yang lebih tinggi. Pola ini terlihat terutama pada responden muda dan mereka yang memiliki disabilitas.
Baca Juga: Mid-Career Drop Lebih Sering Terjadi pada Perempuan. Begini Cara Menanganinya dengan Baik!
"AI memang mempengaruhi pilihan karir dan keterampilan yang dibutuhkan di posisi entry level. Tapi perusahaan justru menunjukkan adopsi AI yang bertahap dan tetap berpusat pada manusia, bukan penggantian pekerjaan.
“Pelatihan AI yang lebih terstruktur dari perusahaan, dan kepastian soal keamanan kerja, bisa mengubah kecemasan menjadi peluang," tambah Stephen Isherwood, Co-CEO ISE.
Isherwood berpendapat, AI memang sedang mengubah lanskap kerja, dan itu tidak bisa dipungkiri. Tapi pindah jalur karir karena takut sebelum tahu faktanya, mungkin bukan langkah terbaik.
Akan lebih berguna kalau kita mulai mengenali AI, mempelajari cara kerjanya, dan menjadikan itu bagian dari keunggulan kita. Jadi, jangan malah jadi sumber ketakutan, ya!