PejuangKantoran.com - Menurut data dari Ethnologue tahun 2024, ada 7.168 bahasa yang aktif digunakan di 242 negara di dunia. Dari jumlah tersebut, 2.000-nya ada di Asia.
Indonesia sendiri, menurut data dari Badan Bahasa tahun 2019-2024, punya 718 bahasa daerah. Ini menjadikan Indonesia peringkat kedua negara dengan bahasa terbanyak di dunia. Hebat, ya?
Tapi tahu nggak, bahasa yang kita gunakan sehari-hari itu ternyata bisa hilang begitu saja. Hampir 60 persen dari 7.000 bahasa di dunia itu saat ini terancam punah. Bahkan, 10 persen di antaranya hanya dituturkan oleh kurang dari 10 orang saja.
Baca Juga: 6 Maskapai Penerbangan dengan Hidangan Terbaik di Kelas Premium Economy Tahun 2026
Bayangkan, ketika penutur asli yang terakhir itu meninggal, seluruh dunia, sejarah, dan cara berpikir yang ada di dalam bahasa yang hilang itu ikut terkubur.
Bukan sekadar mati
Dalam bukunya yang berjudul How to Kill a Language, Sophia Smith Galer, penulis Inggris yang masuk daftar "Forbes 30 Under 30 for Marketing and Media in Europe", menjelaskan bahwa fenomena ini sering kali bukan terjadi secara alami.
Ada istilah yang disebut "linguicide", yaitu kondisi di mana sebuah negara atau sistem secara aktif maupun pasif menghancurkan sebuah bahasa. Hal itu biasa dilakukan lewat pengabaian di sekolah, atau yang lebih ekstrem, lewat genosida dan penghapusan paksa terhadap masyarakat adat.
PBB memperkirakan bahwa satu bahasa menghilang setiap dua minggu. Contoh nyatanya adalah bahasa Hupa di California yang dinyatakan "mati" pada Maret 2026 setelah penutur terakhirnya, Verdena Parker, tutup usia.
Di Inggris juga begitu. Meski bahasa Welsh mulai bangkit, penutur asli bahasa Cornish sekarang tinggal sekitar 500 orang.
Kaitannya dengan kesehatan mental
Bahasa bukan cuma kumpulan kata di kamus, tapi juga merupakan ensiklopedia pengetahuan. Banyak hal yang diketahui oleh penutur bahasa lokal namun tidak diketahui oleh sains modern.
Contoh menarik terjadi di Australia pada tahun 2005. Saat itu, para ilmuwan mengumumkan penemuan spesies lumba-lumba baru, Australian snubfin.
Padahal, suku Iwaidja di sana sudah lama punya dua nama berbeda untuk jenis lumba-lumba tersebut. Mereka sudah tahu sejak lama, sementara ilmu pengetahuan butuh waktu puluhan tahun untuk menemukannya.