Sad Banget, Tiap Dua Minggu ada Satu dari 7.000 Bahasa Aktif di Dunia yang Hilang!

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 27 April 2026 | 18:59 WIB
Ilustrasi: Hampir 60 persen dari sekitar 7.000 bahasa di dunia saat ini terancam punah. (Freepik)
Ilustrasi: Hampir 60 persen dari sekitar 7.000 bahasa di dunia saat ini terancam punah. (Freepik)

Jadi kalau sampai ada bahasa yang hilang, dampaknya pasti sangat serius pada kesejahteraan manusia. Penelitian di Kanada bahkan menemukan korelasi langsung antara hilangnya bahasa dengan kesehatan mental.

Di komunitas First Nation (masyarakat adat Kanada) di mana kurang dari setengah populasinya mampu berbicara bahasa ibu mereka, angka bunuh diri pada remaja tercatat 6 kali lebih tinggi dibandingkan dengan komunitas yang masih menjaga bahasa aslinya.

Data di Australia pada tahun 2012 juga menunjukkan hal yang serupa. Menjaga bahasa asli terbukti bisa memperbaiki berbagai hasil sosial dan kesehatan bagi masyarakat Aborigin. Sayangnya, pemerintah belum banyak berbuah untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Baca Juga: CEO Apple John Ternus Diharapkan Lebih Bernyali sebagai Penentu Masa Depan Perusahaan

Masih ada harapan

Meski adanya bahasa yang hilang kesannya suram banget, selalu ada ruang untuk harapan. Bahasa adalah bentuk perlawanan dan identitas. Kita bisa melihat ini di Ukraina. Di tengah konflik, banyak warga Ukraina yang secara sadar meninggalkan bahasa Rusia (bahasa agresor) dan kembali menggunakan bahasa Ukraina atau campuran yang disebut Surzhyk.

Bagi mereka, belajar dan menggunakan kembali bahasa ibu adalah cara untuk bertahan hidup dan menjaga martabat bangsa.

Linguicide yang dilakukan secara sengaja, atau kehilangan sebuah bahasa secara alami, berarti kehilangan satu cara unik untuk melihat dunia. Jadi, menjaga keberagaman bahasa itu bukan cuma soal budaya, tapi soal menjaga kemanusiaan kita sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: The Telegraph, katadata.co.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X