Bahkan, Mark Zuckerberg dari Meta baru saja mengumumkan pemangkasan 8.000 karyawan untuk menutup biaya infrastruktur AI.
Namun, putusan pengadilan di Tiongkok itu ingin memberikan batasan agar kemajuan teknologi tidak merampas hak-hak dasar pekerja.
"Kemajuan teknologi mungkin tidak bisa dihentikan, tapi ia tidak bisa berdiri di luar kerangka hukum," tukas Wang Tianyu, peneliti dari Chinese Academy of Social Sciences.
Kasus ini memberi pesan bahwa transisi ke era otomatisasi AI tidak boleh dilakukan sepihak dengan mengorbankan kesejahteraan karyawan. Perusahaan punya tanggung jawab untuk membantu timnya beradaptasi, bukan sekadar memberhentikan mereka demi menekan biaya.
Putusan Pengadilan Tiongkok ini juga jadi pengingat bahwa di balik efisiensi yang ditawarkan AI, perlindungan terhadap martabat pekerja harus tetap menjadi prioritas utama.
Semoga kebijakan yang sama juga bisa diterapkan di seluruh dunia, termasuk di lingkungan kerja kita sendiri.