news

6 Kejanggalan dari Pemalsuan Riset yang Diduga Dilakukan Peneliti Indonesia di Konferensi Internasional

Rabu, 27 Mei 2026 | 21:47 WIB
Dua judul penelitian berbeda dengan kesimpulan yang sama ini termasuk yang disebutkan sebagai dugaan pemalsuan riset yang melibatkan nama Prihantini. (Instagram @kualimerahputih)

Data riset diragukan

Adapun Wa Ode Dwi Daningrat mendapati data mencurigakan tentang penggunaan vaksin PCV20 di Indonesia. Menurutnya, Indonesia belum menerapkan PCV20 secara luas untuk program vaksinasi nasional. Saat ini, Indonesia masih menggunakan PCV13.

"Saya bilang penelitian kalian sudah bisa dapat data PCV20 di Indonesia. Apalagi terus untuk adults ya, mencurigakan banget gitu loh," kata Dwi, seperti dikutip Detik.com.

Baca Juga: 5 Pelajaran yang Bisa Kita Ambil dari Konsep 'La Dolce Vita' Orang Italia di Dunia Kerja

Identitas pemateri tidak sesuai judul penelitian

Event ISPPD 2026 menjadwalkan sesi presentasi atas nama "Riana Dwi Kurniawati" dengan judul penelitian Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities.

Tampillah seorang perempuan yang memperkenalkan diri sebagai Riana Dwi Kurniawati untuk mempresentasikan materi tersebut.

Tapi hanya berselang 10 menit kemudian dalam sesi presentasi berjudul AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities, perempuan tersebut kembali tampil, namun mengaku bernama Dimas Fajar Prasetyo. Dalam judul riset tersebut, Dimas Fajar Prasetyo memang disebut sebagai salah satu peneliti.

Usut punya usut, ternyata pemateri dalam dua sesi tersebut bukan Riana ataupun Dimas, melainkan Prihantini. Ia hanya bermodal ganti baju dan jilbab saja.

Baca Juga: Foto dan Suara Sandiaga Uno Dicatut untuk Menipu, Kenali Cara Kerja Penipuan Berbasis AI!

Dua penelitian berbeda dengan kesimpulan sama

Riana Dwi Kurniawati dan Dimas Fajar Prasetyo juga terdaftar sebagai peneliti dalam dua judul penelitian, yaitu Which Should Come First: Oxygen Expansion or Pneumococcal Vaccination for Frail, Comorbid Older Adults in LMIC Cities? dan Refugee and Displaced Elders Facing Winter Viral Pneumococcal Syndemics: Camp Co-Infection Screening, Vaccination Gaps and Surge Preparedness in Humanitarian Settings across The Middle East and Africa.

Namun dua penelitian ini ternyata memiliki kesimpulan (conclusion) yang plek-ketiplek, yaitu: “Refugee and displaced elders experience substantial viral pneumococcal syndemics burden with low vaccine coverage, but structured co-infection screening and winter-surge plans can significantly improve survival and preserve fragile camp hospital capacity”.

Yang dilakukan oleh peneliti gadungan ini memang fatal akibatnya. Hanya demi keliling dunia gratis, kredibilitas para peneliti Indonesia lainnya jadi tercoreng di mata internasional.

Halaman:

Tags

Terkini