PejuangKantoran.com - Usulan mantan diplomat Indonesia agar Presiden Prabowo Subianto mengurangi frekuensi kunjungan ke luar negeri memicu perdebatan publik dan mendapat respons langsung dari Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya. Rekomendasi tersebut muncul di tengah sorotan terhadap intensitas lawatan internasional Presiden Prabowo sejak mulai menjabat pada Oktober 2024.
Mantan diplomat senior Indonesia, Dino Patti Djalal, menilai Presiden perlu lebih selektif dalam melakukan perjalanan luar negeri dan memberikan perhatian lebih besar terhadap berbagai persoalan domestik. Dalam pandangannya, sejumlah agenda internasional dapat didelegasikan kepada menteri atau pejabat terkait tanpa harus selalu dihadiri langsung oleh kepala negara.
Pandangan tersebut sejalan dengan sejumlah kritik yang muncul dalam beberapa bulan terakhir. Sejumlah pengamat menyoroti tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo, terutama ketika pemerintah sedang mendorong efisiensi anggaran di berbagai sektor. Beberapa kalangan mempertanyakan efektivitas dan urgensi sebagian perjalanan tersebut di tengah tantangan ekonomi dan sosial di dalam negeri.
Namun, Seskab Teddy membantah anggapan bahwa lawatan luar negeri Presiden tidak memberikan manfaat nyata. Menurutnya, berbagai kunjungan internasional yang dilakukan Prabowo telah menghasilkan komitmen investasi, penguatan hubungan diplomatik, hingga kerja sama strategis yang dinilai penting bagi kepentingan nasional Indonesia.
Teddy mencontohkan sejumlah capaian yang diklaim diperoleh selama kunjungan kenegaraan Presiden, termasuk komitmen investasi dari mitra internasional, penguatan kerja sama perdagangan, hingga peningkatan posisi tawar Indonesia di forum global. Ia menegaskan bahwa diplomasi tingkat tinggi tetap menjadi instrumen penting untuk memperluas peluang ekonomi dan memperkuat pengaruh Indonesia di panggung internasional.
Baca Juga: Psikolog Soroti Viralitas Lagu “MBG Mas Bahlil Ganteng”, Awas Bisa Memengaruhi Persepsi Publik
Sejak dilantik sebagai presiden, Prabowo memang dikenal aktif melakukan diplomasi luar negeri. Berbagai kunjungan dilakukan ke negara-negara di Asia, Timur Tengah, Eropa, hingga Amerika Utara dalam rangka menghadiri forum internasional maupun pertemuan bilateral. Pendekatan ini disebut sejumlah analis sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan menengah yang lebih aktif dalam percaturan global.
Meski demikian, perdebatan mengenai frekuensi perjalanan luar negeri presiden diperkirakan masih akan terus berlanjut. Di satu sisi, pemerintah menilai diplomasi langsung menghasilkan manfaat strategis bagi Indonesia. Di sisi lain, sebagian kalangan berpendapat bahwa efektivitas kunjungan tersebut perlu terus dievaluasi agar sejalan dengan kebutuhan masyarakat dan prioritas pembangunan di dalam negeri.