news

Evolusi Bola Dalam Pertandingan Piala Dunia, Ada yang Diproduksi di Indonesia, lho!

Jumat, 12 Juni 2026 | 12:25 WIB
Sejarah evolusi bola di Piala Dunia, ada yang diproduksi di Indonesia! (Screenshoot dari FIFA.com)

Lalu di seri Tango España (1982), jahitannya lebih tahan air sehingga mengurangi perubahan berat saat kondisi basah. Ini seri bola kulit terakhir yang digunakan pada Piala Dunia.

  1. Transisi ke Material Sintetis (1986–1994)

Ini era di mana material kulit diganti dengan material sintetis. Di seri Azteca (1986), menjadi bola Piala Dunia pertama yang sepenuhnya berbahan sintetis. Ini menyebabkannya menjadi lebih tahan cuaca dan menjadi lebih konsisten performanya.

Lalu pada seri Etrusco Unico (1990), ditambahkan lapisan busa internal untuk kontrol lebih baik.

Pada seri Questra (1994), walaupun masih menggunakan panel segilima, namun materialnya menggunakan bahan berteknologi tinggi yang terinspirasi program luar angkasa. Ini membuat bola menjadi lebih ringan dan cepat. 

  1. Era Warna dan Aerodinamika (1998–2006)

Ini era di mana bola juga “menghibur mata”, era ketika desain mulai menerapkan warna-warna yang berani dan keluar dari pakem desain visual bola selama itu.

Seri Tricolore (1998) adalah seri bola Piala Dunia pertama yang berwarna, tak hanya sekadar hitam-putih. Sebagai catatan, Adidas Tricolore yang dipakai di Piala Dunia 1998, salah satu negara yang memproduksi adalah Indonesia.

Lalu seri Fevernova (2002) lebih berani lagi dengan warna emas dipadu dengan hijau dan merah tua yang menyolok. Selain itu, bola seri ini menggunakan material baru untuk meningkatkan akurasi.

Lalu seri Teamgeist (2006), perubahan revolusioner terjadi. Desain seri ini mengurangi jumlah panel bola secara drastis. Desain ini menjadikan bola menjadi lebih bulat sempurna. Dan tak ada lagi jahitan tradisional dengan benang, mulai digantikan sambungan termal (memanfaatkan panas) untuk menyatukan panel-panel.

Baca Juga: TVRI Memegang Hak Siar Piala Dunia 2026, Seluruh Laga yang Dipertandingkan Bisa Ditonton hingga Pelosok

  1. Era Rekayasa Aerodinamika Modern (2010–2018)

Era di mana aerodinamika bola meningkat. Seri Jabulani (2010) hanya menggunakan 8 panel dan sangat aerodinamis. Namun, banyak kiper dan pemain mengeluhkan lintasannya yang tidak stabil.

Seri Brazuca (2014) hanya menggunakan 6 panel simetris. Ini menyebabkan stabilitas dan kontrol lebih baik sehingga menjadi salah satu bola Piala Dunia yang paling disukai pemain.

Lalu seri Telstar 18 (2018) yang menghidupkan kembali nama Telstar, terpasang chip NFC yang memungkinkan interaksi digital melalui ponsel pintar.

  1. Era Bola Pintar (2022–Sekarang)

Ini adalah era bola yang terintegrasi dengan teknologi digital yang pintar. Seri Al Rihla (2022) adalah bola resmi pertama Piala Dunia dengan "Connected Ball Technology".

Sensor internal mengirim data gerakan dan sentuhan bola ke sistem pertandingan. Ini membantu VAR dan semi-automated offside technology.

Lalu seri Trionda (2026) yang menjadi bola resmi Piala Dunia 2026, hanya terdiri dari 4 panel. Ia memiliki sensor gerak 500 Hz yang mengirim data real-time ke wasit dan VAR.

Halaman:

Tags

Terkini