news

Banyak Gen Z dan Millenial Menunda Prioritas Hidup Mereka Karena Kesulitan Keuangan. Bagaimana Realitasnya di Indonesia?

Rabu, 29 Juli 2026 | 15:45 WIB
Laporan global Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey mengungkap sebuah pergeseran budaya yang mendalam: lahirnya generasi yang bisa disebut “Nanti-nanti saja deh”. Dimana generasi ini terpaksa menunda prioritas hidup karena tekanan ekonomi. (Pejuang Kantoran/Google Gemini)

PejuangKantoran.com - Laporan global Deloitte Global 2026 Gen Z and Millennial Survey mengungkap sebuah pergeseran budaya yang mendalam: lahirnya generasi yang bisa disebut “Nanti-nanti saja deh”. Berbeda dengan generasi terdahulu yang mengikuti garis waktu tradisional seperti lulus kuliah, bekerja, menikah, dan membeli rumah, generasi muda saat ini dipaksa menyusun ulang lini masa hidup mereka.

Baca Juga: Jika Kamu Bujangan yang Sering WFH, Pilih Tinggal di Apartemen Tipe Studio atau 1 Kamar?

Baca Juga: Lagi Nyari Rumah Pertama? Kabar Baik, BRI Punya Program 3 Juta Rumah dengan KUR Perumahan

Bukan karena hilangnya ambisi, melainkan karena tingginya biaya hidup dan tekanan ekonomi global yang memaksa mereka untuk bersikap super-realistis.

Tunda Masa Depan Demi Bertahan Hari Ini

Data global menunjukkan bahwa 55% Gen Z dan 52% milenial secara sadar menunda keputusan besar dalam hidup mereka. Keputusan penting seperti membina rumah tangga, memiliki anak, mendirikan bisnis, hingga melanjutkan pendidikan tinggi harus dikesampingkan demi mengamankan stabilitas finansial jangka pendek.

Faktor terbesar dari fenomena ini adalah inflasi biaya hidup (cost of living) yang tidak sebanding dengan pertumbuhan upah. Nyaris separuh dari responden global (47%) mengaku hidup dari gaji ke gaji (paycheck to paycheck), sementara krisis properti membuat 51% Gen Z dan 40% milenial merasa mustahil bisa memiliki rumah sendiri. Ketidakpastian ini menumbuhkan kecemasan akut terkait masa depan finansial jangka panjang mereka.

Bagaimana Realitasnya di Indonesia?

Fenomena menunda komitmen besar ini ternyata sangat relevan dan nyata terjadi di Indonesia. Data resm BPS, Indonesia mengalami tren penurunan angka pernikahan yang cukup drastis dalam satu dekade terakhir. Data mencatat angka pernikahan di Indonesia menyusut dari 2,11 juta pada tahun 2014 menjadi hanya 1,47 juta pada tahun 2024—artinya Indonesia kehilangan sekitar 632.000 pernikahan per tahun.

Berikut adalah beberapa data dan indikator lokal yang mengonfirmasi bahwa kendala keuangan menjadi dalang utama di balik fenomena ini.

1. Kecemasan Finansial dan Penundaan Nikah

Berdasarkan data dari IDN Research Institute, 38% Gen Z dan milenial di Indonesia memilih menunda pernikahan akibat kecemasan finansial. Sebanyak 65,8% anak muda di dalam negeri juga menahan pengeluaran mereka secara ekstrem karena takut kondisi ekonomi memburuk di masa depan.

2. Impitan Ekonomi vs Standar Hidup

Anak muda di kota-kota besar Indonesia, seperti Semarang dan Jakarta, mengeluhkan bahwa "gaji UMR saat ini hanya pas-pasan untuk hidup sendiri". Ketidakpastian pasar kerja, sulitnya mencari lapangan kerja yang stabil, dan inflasi kebutuhan pokok membuat komitmen untuk membiayai orang lain (pasangan atau anak) dirasa kurang bijak sebelum fondasi keuangan mandiri mereka kokoh.

Halaman:

Tags

Terkini