Jika melihat kekerasan, maka di tahap paling awal ini ada emosi kemarahan. Monica menganalisa bahwa MDS belum menyesal karena selama proses persidangan masih menunjukkan kemarahan, mulai dari gestur, mengernyitkan dahi, atau memejamkan mata.
Hal ini merupakan emosi tambahan di mana mengernyitkan dahi biasanya merupakan suatu proses berpikir atau cognitive loading. Hal ini, menurut Monica, hal yang wajar.
Baca Juga: Saat David Posisi Tobat dengan Kepala di Tanah, AG Merokok di Sampingnya
“Mengernyitkan dahi juga mungkin suatu ekspresi ketika seseorang takut. Ketakutan itu sudah ada, apakah karena tuntutan berikutnya. Tetapi yang lebih didominasi adalah emosi-emosi kemarahan. Menyesal atau tidak, kesimpulan saya belum sampai penyesalan,” tukasnya.
Memang tentunya ada perubahan sikap, tetapi menurut analisa Monica melalui bahasa on verbal, setiap orang memiliki baseline sendiri-sendiri dalam menyikapi situasi.
“Yang saya sampaikan adalah mengenai perubahan-perubahan emosi. Jelas memang berubah, penjara itu merupakan sekolah kehidupan. Tetapi apakah proses emosinya sudah seperti yang dibayangkan?
Collective feeling dari publik yang mengatakan bahwa MDS belum menyesal, atau tidak menyesal, memang terlihat pada bahasa non verbalnya,” pungkas Monica.