“Tolok ukurnya adalah ketika kita ngobrol atau bicara masih jelas, artikulasi masih jelas, berarti lari masih oke. Tetapi kalau larinya sudah ngos-ngosan, itu berarti larinya kecepatan. Harus diturunin lagi pace-nya.
“Tenaga lari yang dipakai harus sesuai dengan kemampuan dan jarak kilometer yang akan ditempuh. Kalau paru-paru, badan, napas, otot dan core-nya sudah mulai enak, baru kita bisa tambah kecepatannya,” sarannya.
Ketika kita sudah punya kecepatan, bukan tidak mungkin kita bisa berprestasi dan menjadi pemenang dalam event lari. (Syanne Susita)