Angka tersebut turun 18% dari tahun sebelumnya. Alasan utamanya adalah karena penjualan yang lebih rendah dan margin operasi.
Menurut Neil Saunders, analis ritel dan direktur pelaksana di GlobalData Retail, salah satu penyebab penjualan menurun terus adalah karena Tupperware belum dapat sepenuhnya terhubung dengan konsumen yang lebih muda.
"Perusahaan ini dulunya adalah sarang inovasi dengan (menghasilkan) gadget untuk dapur yang memecahkan berbagai masalah, tetapi sekarang benar-benar kehilangan keunggulannya," jelasnya.
Tupperware sudah mencoba memposisikan ulang dirinya ke audiens yang lebih muda. Sayangnya, upaya tersebut gagal menghentikan penurunan penjualannya.
Perusahaan ini menjadi terkenal pada tahun 1950-an dan 1960-an ketika orang mengadakan "pesta Tupperware" di rumah untuk menjual wadah plastik sebagai penyimpanan makanan.
Tupperware mempekerjakan tenaga penjualan langsung yang memperoleh persentase dari semua barang yang mereka jual, serta menjual produk di situs webnya.
Baru-baru ini mereka mulai menjual produknya di jaringan ritel AS Target dalam upaya menarik pembeli yang lebih muda.
Baca Juga: Benarkah Coldplay Akan Konser di Indonesia pada November 2023?
Brand ini juga memperluas jangkauannya ke produk memasak, seperti panggangan tahan panas untuk penggunaan di microwave. Namun upaya ini pun tak membuahkan hasil.
Tak hanya penjualan yang menurun, Tupperware juga menghadapi tuntutan hukum dari para investor karena tidak mengungkapkan masalah serius yang dihadapi perusahaan dengan kontrol internal dan pernyataan yang salah dalam laporan 2020.
Jadi, apakah Tupperware akan benar-benar bangkrut atau akan mampu kembali ke masa kejayaannya? (Elga Windasari)