news

8 Perusahaan Indonesia Masuk Forbes Global 2000, dari BRI hingga Garuda

Selasa, 13 Juni 2023 | 12:00 WIB
Tahun ini, ada delapan perusahaan Indonesia yang berhasil masuk ke dalam daftar Forbes Global 2000. (Forbes)

Ini adalah bank swasta terbesar di Indonesia, yang didirikan pada 21 Februari 1957. Pernah menjadi bagian penting dari Salim Group, sekarang bank ini dimiliki oleh Djarum, salah satu grup produsen rokok terbesar keempat di Indonesia.

BCA juga menjadi salah satu yang paling mudah ditemukan. Per 31 Maret 2022, perseroan mencatat bank ini memiliki 1.241 kantor cabang, 18.050 ATM, dan lebih dari 29 juta rekening yang tersebar di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Gubernur Bali Luncurkan Daftar Dos and Don’ts: bagi Turis Saat Berkunjung ke Pulau Bali

4. Telkom Indonesia - Posisi 787
● Laba: US$1,4 miliar atau Rp20,8 triliun

Ini adalah sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Indonesia yang bergerak di bidang teknologi informasi dan komunikasi.

Pada 1995, perusahaan ini mendirikan Telkomsel yang bergerak di bidang telekomunikasi seluler. Selain itu, saat ini Telkom Indonesia juga memiliki layanan IndiHome, Flexi, TelkomNet Instan, dan Speedy.

5. BNI - Posisi 930
● Laba: US$1,23 miliar atau Rp18,3 triliun

Bank BUMN ini merupakan bank komersial tertua dalam sejarah Indonesia. Didirikan pada 5 Juli tahun 1946 di Purwokerto, saat ini BNI mempunyai 2.262 kantor cabang di Indonesia dan 8 di luar negeri.

BNI memiliki 13 anak perusahaan, mulai dari Bank Syariah Indonesia (25%), Bank Mayora, BNI Remittance Limited - Hong Kong, hingga PT BNI Life dan PT BNI Multi Finance.

6. Bayan Resources - Posisi 983
● Laba: US$2,18 miliar atau Rp32,4 triliun

Didirikan pada November 1997 oleh Low Tuck Kwong, ini adalah perusahaan pertambangan dengan total luas konsesi 126.293 hektar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.

Hingga akhir 2020, Bayan Resources memegang lima Kontrak Karya Batubara (PKP2B) dan 16 Izin Usaha Pertambangan (IUP), serta memiliki 30 anak usaha.

7. Adaro Energy - Posisi 1.396
● Laba: US$2,5 miliar atau Rp37,2 triliun

Sejarahnya perusahaan ini dimulai pada 1970-an saat pemerintah Indonesia membagi Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan menjadi delapan blok batu bara.

Enadimsa kemudian mendirikan PT Adaro Indonesia (AI) untuk mengelola aktivitas pertambangan batu bara di blok tersebut.

Halaman:

Tags

Terkini