news

Restriksi Impor Beras Membuat Ketahanan dan Cadangan Pangan Menjadi Lambat

Senin, 10 Juli 2023 | 14:30 WIB
Ilustrasi: Impor jagung untuk pakan yang hanya bisa dilakukan oleh BUMN juga merugikan peternak kecil. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Saat ini, pemerintah menetapkan berbagai restriksi pada perdagangan pangan. Hal ini tidak hanya memunculkan biaya tambahan, tetapi juga membahayakan status gizi dan asupan kalori masyarakat.

Menurut Head of Agriculture Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta, tren konsumsi pangan yang semakin meningkat, perlu diimbangi dengan ketersediaan.

Baca Juga: 2 Batu Keberuntungan untuk Kamu yang Lahir di Juli, Menurut Astrologi China

“Hal ini juga dihadapkan pada berbagai tantangan. Potensi kesenjangan ini dalam jangka panjang akan mempengaruhi status gizi dan asupan kalori karena masyarakat sulit mengonsumsi pangan bergizi dan seimbang,” jelasnya.

Bahkan, ketersediaan dan akses pangan saat ini belum memadai untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Padahal, mereka menghabiskan sebagian besar pendapatannya untuk pangan.

Jutaan orang Indonesia masih kekurangan gizi

Disebut sebagai negara agraris, ironisnya Indeks Ketahanan Pangan Global 2022 Indonesia berada di peringkat 84 untuk ketersediaan pangan dan 44 untuk keterjangkauan dari 113 negara.

Posisi ini lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga, seperti Thailand dengan posisi 77 dan 39, Vietnam di posisi 49 dan 38, dan Malaysia yang berada di posisi 56 dan 30. 

Statistik terbaru juga menunjukkan jutaan orang Indonesia menderita kekurangan gizi.

Sekitar 21 juta orang atau sekitar 7% dari populasi Indonesia, mengalami kekurangan gizi dengan asupan kalori per kapita harian di bawah standar Kementerian Kesehatan, yaitu sebesar 2.100 kkal.

Pada 2022, ada sekitar 21,6% anak Indonesia berusia di bawah lima tahun yang mengalami stunting atau rasio tinggi berbanding usia rendah dan 7,7% menderita wasting atau rasio berat badan berbanding tinggi badan rendah.

Baca Juga: Meski Sibuk, Jangan Malas Buat Rawat Kulit : Ini Hack-nya!

Menurut penelitian CIPS terbaru yang berjudul Future Food Demand in Poor Indonesian District atau Proyeksi Kebutuhan Pangan di Daerah Miskin Indonesia, diproyeksikan, pada 2045 ada 20 kabupaten dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Hal itu dilihat dari permintaan pangan di wilayah termiskin tersebut yang diperkirakan masih berada di bawah standar, khususnya untuk asupan kalori harian.

Padahal, jumlah permintaan beras, jagung, dan tepung terigu di 20 kabupaten tersebut kemungkinan akan meningkat setiap tahunnya. Untuk beras akan ada peningkatan sebesar 1,2% beras, jagung sebesar 1,27%, dan tepung terigu 6,24%.

Halaman:

Tags

Terkini