news

Gen Z dan Milenial di Asia Sekarang Enggan Bekerja di Pabrik, dan Ini Akibatnya!

Senin, 14 Agustus 2023 | 19:26 WIB
Ilustrasi: Pabrik-pabrik di Asia kekurangan tenaga kerja karena Gen Z dan milenial tak mau lagi bekeeja di pabrik. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Banyak pabrik di wilayah Asia yang memproduksi barang-barang konsumsi, seperti pakaian, furnitur, mainan, juga makanan dan minuman, saat ini kesulitan mencari tenaga kerja.

Akibatnya, produsen cenderung menaikkan upah dan menawarkan fasilitas lain —termasuk kelas yoga, makanan di kantin yang lebih baik, dan taman kanak-kanak bersubsidi untuk anak-anak pekerja, demikian menurut laporan The Wall Street Journal.

Meskipun ini kabar baik bagi para pekerja pabrik di Asia, tetapi menjadi kabar buruk bagi pembeli Amerika. Sebab, pabrik menaikkan harga untuk mengimbangi kenaikan upah tenaga kerja.

Baca Juga: 81 Juta Milenial Belum Punya  Rumah, Erick Thohir Bakal Bangun Rumah Harga Terjangkau

"Untuk konsumen Amerika yang telah terbiasa membeli barang dari pendapatan mereka yang relatif stabil dan bisa dibelanjakan, saya pikir landasan itu harus diubah," kata Manoj Pradhan, seorang ekonom yang berbasis di London, kepada Journal.

Menyesuaikan kenaikan upah pekerja

Selama dua dekade terakhir, biaya produksi yang lebih murah di negara-negara Asia seperti China adalah penyebab harga berbagai barang yang dipasarkan ke berbagai negara jadi lebih murah.

Tetapi pekerjaan di pabrik tidak semurah dulu. Di China, kenaikan upah pekerja pabrik lebih dari tiga kali lipat selama dekade terakhir. Sedangkan pekerja pabrik di Vietnam, Malaysia, dan Jepang, juga mengalami kenaikan gaji yang mencolok.

Efek trickle-down pada harga sudah dimulai. Perusahaan seperti pembuat Barbie, Mattel, pembuat mainan Hasbro, dan Nike, menghadapi kenaikan upah tenaga kerja di Asia. Alhasil, harga barang naik untuk menyesuaikan kenaikan upah pekerja pabrik.

Para ahli menghubungkan kekurangan pekerja pabrik di Asia dengan berbagai faktor. Pertama-tama, banyak dari pekerja muda yang sudah tidak ingin bekerja di industri tersebut.

Beberapa pekerja pilih menunda oleh karena kondisi di dunia kerja, sementara yang lain bertahan untuk mendapat pekerjaan dengan gaji lebih tinggi yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikan mereka.

Tingkat pengangguran di China di kalangan pekerja berusia 16-24 mencapai rekor 21% pada kuartal terakhir, meskipun faktanya banyak pabrik yang membutuhkan pekerja.

Baca Juga: Tidak Gratis, ASN yang Pindah ke IKN Tetap Harus Bayar Sewa Rumah Dinas yang Ditempati

"Setelah beberapa lama, pekerjaan itu membuat pikiran kita mati rasa. Saya tidak tahan dengan pengulangan," kata mantan pekerja pabrik China Julian Zhu kepada VOA News, November lalu.

Pada tahun 2001, tipikal pekerja pabrik Asia di Nike berusia 22 tahun. Saat ini, rata-rata pekerja China dan Vietnam masing-masing berusia 40 dan 31 tahun.

Halaman:

Tags

Terkini